Nelayan Perlu Nilai Tambah, Bukan Sekadar Tangkapan
- 12 Agt 2026 17:24 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Sebagian besar orang menilai kesejahteraan nelayan cukup diukur dari banyaknya ikan yang ditangkap. Namun, di tengah perubahan iklim dan tuntutan pengelolaan perikanan berkelanjutan, meningkatkan produksi bukan lagi satu-satunya jawaban.
Persoalan yang sering luput dari perhatian justru muncul setelah ikan ditangkap. Banyak nelayan Indonesia masih merugi akibat buruknya penanganan pascapanen, mulai dari penyimpanan yang kurang higienis, pengeringan yang bergantung cuaca, hingga pengemasan yang belum memenuhi standar keamanan pangan.
Padahal, Indonesia adalah salah satu negara dengan potensi perikanan terbesar di dunia. Di Sulawesi Tenggara, sektor perikanan menyumbang sekitar 11,7 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah. Konsumsi ikan masyarakat pun telah mencapai sekitar 77,68 kilogram per kapita per tahun.
Sayangnya, besarnya produksi belum selalu diikuti nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi nelayan. Salah satu penyebabnya adalah kehilangan hasil atau "post-harvest loss", yakni penurunan kualitas maupun kuantitas tangkapan setelah ikan didaratkan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah lama mengingatkan bahwa persoalan ini menjadi tantangan besar bagi sektor perikanan di banyak negara berkembang.
Nilai Tambah Lebih Penting daripada Menambah Tangkapan
Pengalaman kami melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Torobulu, Kabupaten Konawe Selatan, memberi pelajaran penting. Persoalan utama yang dihadapi warga bukan kurangnya ikan, melainkan bagaimana mempertahankan mutu ikan setelah ditangkap dan mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Berangkat dari kondisi itu, tim pengabdian memperkenalkan konsep "Smart Digital Fishery", yaitu pendekatan yang memadukan teknologi tepat guna dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pendekatan ini tidak berorientasi pada eksploitasi sumber daya ikan, melainkan pada efisiensi, kualitas, dan nilai tambah hasil perikanan.
Sebanyak 40 nelayan dan pengolah ikan mengikuti pelatihan yang berfokus pada penanganan hasil tangkapan dan pengolahan produk. Teknologi yang diperkenalkan dirancang sederhana agar mudah dioperasikan masyarakat pesisir dan sesuai kondisi usaha skala kecil.
Teknologi Sederhana yang Memberi Dampak Besar
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian peserta adalah box penampung ikan berbahan fiber yang dilengkapi saluran pembuangan air limbah. Selama ini, banyak nelayan menyimpan ikan dalam wadah yang membuat darah dan lendir bercampur dengan hasil tangkapan sehingga mutu ikan cepat menurun. Melalui sistem pembuangan sederhana, kualitas ikan bertahan lebih lama sehingga harga jualnya lebih baik.
Teknologi lain yang diperkenalkan adalah lemari pengering ikan modern berbahan bakar gas dengan sistem sirkulasi udara pada setiap rak. Berbeda dari metode penjemuran tradisional yang bergantung pada cuaca, teknologi ini menghasilkan proses pengeringan yang lebih cepat, bersih, dan seragam.
Peserta juga dilatih memproduksi fillet ikan segar dan ikan kering dalam kemasan vakum. Pengemasan ini tidak hanya membuat produk lebih menarik, tetapi juga memperpanjang umur simpan dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap keamanan pangan.
Pelatihan sanitasi, higiene, dan manajemen usaha juga diberikan. Banyak usaha perikanan skala kecil sebenarnya memiliki produk yang baik, tetapi belum memenuhi standar mutu yang diharapkan konsumen modern.
Teknologi Tidak Cukup tanpa Peningkatan Kapasitas Masyarakat
Salah satu pelajaran paling berharga dari kegiatan ini adalah keberhasilan teknologi sangat ditentukan oleh manusianya. Program pemberdayaan sering kali berhenti pada pemberian bantuan peralatan, padahal tanpa pendampingan yang memadai, banyak peralatan akhirnya tidak dimanfaatkan secara optimal.
Di Desa Torobulu, pendekatan yang dilakukan berbeda. Peserta tidak hanya menerima bantuan berupa box fiber dan timbangan, tetapi juga memahami mengapa teknologi itu penting dan bagaimana memanfaatkannya untuk meningkatkan keuntungan usaha.
"Box fiber membantu menjaga kualitas ikan sehingga hasil tangkapan tetap segar saat dijual," kata Eli, nelayan peserta kegiatan.
"Lemari pengering modern dan teknologi vakum membuat produk kami lebih higienis, lebih menarik, dan bernilai jual lebih tinggi," kata Ruhati, pelaku usaha pengolahan ikan.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa investasi terbesar dalam pembangunan perikanan bukan hanya pada alat, melainkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusianya.
Pelajaran bagi Pembangunan Perikanan Indonesia
Pengalaman Desa Torobulu memberi pesan sederhana namun penting. Upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan tidak selalu harus dilakukan dengan menambah jumlah tangkapan. Dalam banyak kondisi, memperbaiki penanganan pascapanen dan meningkatkan nilai tambah produk justru memberi manfaat ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan.
Pendekatan ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Produk perikanan berkualitas mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penyediaan pangan bergizi. Peningkatan keterampilan masyarakat mendorong SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Teknologi pengolahan yang efisien mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), sementara peningkatan nilai tambah tanpa eksploitasi berlebih mendukung SDG 14 (Ekosistem Laut).
Ke depan, pembangunan sektor perikanan Indonesia perlu lebih diarahkan pada transformasi sistem pascapanen, pengembangan usaha berbasis inovasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat pesisir. Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ikan yang ditangkap, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas dan menghadirkan produk perikanan yang aman dan berdaya saing.
Tentang Penulis
Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah, Ruang Lingkup Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) dengan judul "Peningkatan Kapasitas Nelayan dan Pengolah Ikan Berbasis Smart Digital Fishery Menuju Sentra Ketahanan Pangan Ikan Desa Torobulu". Program dilaksanakan oleh tim yang diketuai Dr. Fajriah, S.Pi., M.Si., bersama Dr. Muhammad Nur, S.P., M.Si., dan Mochammad Assidiq, S.T., M.T. (Universitas Muhammadiyah Kendari), serta Muhammad Sainal Abidin, S.Si., M.Si. (Universitas Mandala Waluya). Pelatihan pengolahan ikan didukung narasumber Kobajashi Togo Isamu, S.Pi., M.Si., dari Universitas Halu Oleo.
Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Tahun Anggaran 2026. Ucapan terima kasih tim pelaksana disampaikan kepada pemerintah Desa Torobulu dan DPPM, Ditjen Risbang, Kemendikti Saintek, yang telah mendanai program ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....