Moment Hari Kartini, Prof Rosnawintang: Perempuan Harus Berani Melangkah

  • 22 Apr 2026 08:38 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Hari Kartini diperingati untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan, khususnya di bidang pendidikan. Pada masa itu, perempuan belum memiliki akses pendidikan yang setara dengan laki-laki. Kondisi ini mendorong Kartini untuk memperjuangkan hak perempuan agar mendapatkan pendidikan yang layak.

Bagi seorang bagi Prof. Dr. Rosnawintang, S.E., M.Si, Kartini bukan sekadar cerita masa lalu. Di ruang-ruang kampus, tempat Prof Nana mengabdikan diri sebagai pendidik, semangat itu terasa nyata.

Bakal Calon Rektor Universitas Sembilanbelas Negeri (USN) Kolaka ini melihat sendiri bagaimana perempuan kini tidak lagi ragu untuk tampil berdiskusi, memimpin, hingga mengambil keputusan penting.

“Sekarang ini bukan lagi soal emansipasi. Perempuan sudah sadar bahwa mereka harus mengambil peran,” ujarnya

Baginya, perubahan itu tidak datang begitu saja. Ia lahir dari kesadaran yang tumbuh dari dalam diri perempuan itu sendiri kesadaran untuk hadir, berkontribusi, dan menjadi bagian dari perubahan.

Di balik optimisme itu, Prof. Rosnawintang juga melihat tantangan besar. Jumlah perempuan yang begitu besar, menurutnya, adalah kekuatan luar biasa, namun bisa menjadi sia-sia jika tidak diarahkan dengan baik.

“Kalau tidak diarahkan ke hal produktif, semangat Kartini itu bisa saja hilang,” tutur mantan Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Haluoelo Kendari tersebut.

Namun ia juga melihat harapan. Banyak perempuan hari ini yang terus membenahi diri meningkatkan pendidikan, aktif dalam organisasi, dan berani mengambil peran di berbagai bidang.

Meski demikian, Ketua KM Bulukumba Kota Kendari ini tidak ingin perempuan terjebak dalam perdebatan panjang soal gender. Baginya, ukuran utama tetaplah kemampuan.

“Kita tidak bicara gender, tapi siapa yang mumpuni,” tegas mantan Kepala Perpustakaan FEB UHO ini.

Ia percaya bahwa kualitas diri akan selalu menemukan jalannya untuk diakui bukan melalui perdebatan, tetapi melalui karya nyata.

Sebagai pendidik, Prof. Rosnawintang dikenal tegas. Tidak sedikit mahasiswa yang awalnya merasa tertekan dengan pendekatannya. Namun di balik itu, ada prinsip kuat yang ia pegang: setiap orang memiliki potensi, selama mau berusaha.

“Tidak ada yang tidak bisa. Yang ada itu belum mencoba atau belum maksimal,” Tambahnya

Ia tidak hanya mengajar, tetapi membentuk pola pikir bahwa keberhasilan tidak lahir dari alasan, melainkan dari usaha yang sungguh-sungguh.

Dalam pandangannya, kegagalan bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi justru bagian penting dari proses.

“Kalau belum pernah gagal, berarti belum benar-benar berproses,”

Dari kegagalan, seseorang belajar mengenali dirinya memahami batas, memperbaiki kekurangan, dan bangkit dengan kekuatan baru.

Pada akhirnya, refleksi ini ia menegaskan bahwa perempuan masa kini tidak lagi sekadar memperjuangkan kesetaraan, tetapi telah berada pada tahap kesadaran untuk mengambil peran aktif dalam berbagai bidang.

Kompetensi, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus berkembang menjadi kunci utama. Perempuan tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap, tetapi sebagai penggerak perubahan.

Di tangan perempuan seperti Prof. Rosnawintang, semangat Raden Ajeng Kartini tidak hanya dikenang setiap 21 April.Ia hidup dalam tindakan dalam keberanian untuk melangkah, dalam ketegasan untuk bertahan, dan dalam keyakinan untuk terus maju.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....