Armada ASDP di Pulau Terpencil Wawonii, Perkuat Mobilitas dan Distribusi Logistik
- 30 Sep 2026 18:07 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Keberadaan kapal feri rute Kendari–Langara, Kabupaten Konawe Kepulauan, menjadi penopang penting bagi kehidupan masyarakat Wawonii. Selain memudahkan mobilitas warga, layanan penyeberangan tersebut memastikan pasokan sayur mayur, daging ayam, sembako, dan berbagai kebutuhan pokok tetap dapat masuk ke Pulau Wawonii secara rutin.
Kelancaran distribusi melalui kapal feri juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pedagang dan pelaku usaha yang menggantungkan pengiriman barang dari Kota Kendari.
Salah seorang pedagang sayur mayur di Kota Kendari, Ingka, mengatakan sebagian besar bahan pangan yang dipasok ke Wawonii berupa sayuran dan daging ayam mentah yang berasal dari Kota Kendari.
“Biasanya bahan baku yang dikirim ke Langara itu sayur mayur dan daging ayam mentah. Sebagian besar dipasok dari Kendari,” ujar Ingka.
Ia mengungkapkan, pengiriman bahan pangan ke Wawonii melalui kapal feri dapat dilakukan secara rutin setiap minggu. Aktivitas tersebut selama ini memberikan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Menurut Ingka, ketergantungan pedagang terhadap transportasi penyeberangan laut cukup tinggi. Tanpa kapal feri, distribusi barang dari Kendari menuju Wawonii akan mengalami hambatan.
“Usaha penjualan sayur mayur di Wawonii sangat bergantung pada transportasi penyeberangan laut. Kalau tidak ada kapal, kita mau mengirim ke mana,” katanya.
Ingka menuturkan, sebelum adanya kapal feri, pedagang menggunakan kapal kayu untuk mengirim barang. Namun, biaya angkut lebih mahal dengan kapasitas muatan yang terbatas.
“Kalau kapal feri kapasitasnya sangat banyak dan biayanya murah,” jelasnya.
Ia berharap pelayanan transportasi penyeberangan feri ke depan semakin baik. Meski demikian, ia menilai pelayanan yang diberikan saat ini sudah berjalan dengan baik.
Sementara itu, sopir truk angkutan logistik, Sarbit, menuturkan distribusi barang menuju Wawonii melalui kapal feri didominasi sembako. Pengiriman dapat dilakukan hingga dua kali dalam sepekan.
“Kalau ke Wawonii, lebih banyak membawa sembako. Kadang dua kali seminggu masuk ke Wawonii,” ujarnya.

Menurut Sarbit, pelayanan di atas kapal feri saat ini semakin teratur, mulai dari kendaraan masuk hingga keluar kapal. Saat kembali dari Wawonii menuju Kendari, truk yang dikemudikannya biasanya mengangkut kopra.
Ia menilai kapasitas kapal feri cukup besar untuk mendukung pengangkutan barang menuju Wawonii. Kendala yang sesekali terjadi hanya keterlambatan keberangkatan.
“Saya berharap ke depan pelayanan ASDP semakin meningkat,” katanya.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Baubau, Capt. Amir, menjelaskan, ASDP memiliki peran penting dalam menghubungkan Kendari dan Pulau Wawonii, baik untuk mobilitas masyarakat maupun lalu lintas barang.
Layanan tersebut, kata dia, menjadi salah satu jalur utama yang mendukung konektivitas antarwilayah dan aktivitas ekonomi masyarakat Wawonii.
“Keberadaan kapal ASDP sangat krusial dan menjadi penopang utama perekonomian Wawonii, mengingat moda transportasi pengangkut barang dan penumpang pada rute ini sepenuhnya dilayani oleh kapal ASDP,” terangnya.
Ia mengatakan tren volume kendaraan dan barang dalam satu bulan terakhir cenderung stabil. Distribusi logistik umumnya didominasi kendaraan pengangkut yang beroperasi secara berkala dengan siklus penyeberangan setiap satu hingga dua minggu.
Dalam operasionalnya, ASDP menghadapi tantangan berupa cuaca ekstrem pada musim tertentu serta kuatnya arus laut di sekitar Pelabuhan Langara. Kondisi tersebut membutuhkan kewaspadaan ekstra, terutama saat proses penyandaran kapal.
Untuk menjaga keselamatan pelayaran, manajemen ASDP berkoordinasi dengan BMKG dan pihak Syahbandar atau KSOP. Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan, jadwal penyeberangan akan ditunda hingga dinyatakan aman.
Standar keselamatan juga diterapkan melalui pelaksanaan drill keselamatan secara rutin setiap bulan bersama KSOP. Proses pemuatan penumpang, kendaraan, dan barang dilakukan sesuai SOP, termasuk memperhatikan stabilitas kapal serta pengikatan kendaraan secara aman.

ASDP juga memantau volume penumpang dan barang untuk memastikan kapasitas kapal tetap mencukupi. Penataan muatan di geladak dapat disesuaikan agar kebutuhan distribusi logistik dan masyarakat tetap terakomodasi.
Capt. Amir menambahkan, penambahan armada maupun peningkatan frekuensi pelayaran akan disesuaikan dengan peningkatan kebutuhan masyarakat.
Kepala UPTD Pelabuhan Penyeberangan Feri Kendari–Wawonii, Rudi Lenongihide, mengatakan saat ini rute tersebut masih dilayani satu unit kapal, yakni KMP Bahteramas.
Meski hanya satu armada, pelayanan kepada masyarakat tetap diupayakan maksimal dan berjalan lancar. Kapal tersebut memiliki kapasitas maksimal 256 penumpang.
“Setiap tahun jumlah penumpang terus meningkat. Dengan adanya kapal penyeberangan feri Kendari–Wawonii, masyarakat di wilayah Kabupaten Konawe Kepulauan sangat terbantu,” ujarnya.
Rudi mengatakan kendala yang sesekali terjadi adalah keterlambatan keberangkatan dari jadwal yang telah ditetapkan. Namun, kondisi tersebut tidak sering terjadi.
Dengan demikian, layanan penyeberangan Kendari–Wawonii tidak hanya menjadi sarana transportasi penumpang, tetapi juga menjadi jalur penting bagi distribusi kebutuhan pokok, hasil komoditas, serta aktivitas ekonomi masyarakat yang menghubungkan Kota Kendari dengan Pulau Wawonii.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....