Mahasiswa Ilmu Komunikasi UHO Gelar Pekan Literasi AI Pemilu 2029

  • 18 Sep 2026 20:53 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) yang terakreditasi A, menggelar kegiatan Pekan Literasi AI Pemilu dengan tema "Pemilih Pemula di Era AI, Tantangan Komunikasi Politik Digital Menjelang Pemilu 2029 – Tanya AI Boleh, Percaya Mentah-Mentah Jangan". Kegiatan ini mengusung filosofi budaya Tolaki "Mepokoaso" yang berarti bersatu padu dalam gotong royong kolektif, sebagai respons terhadap ancaman manipulasi informasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin masif menjelang Pemilu 2029.

Adapun urgensi kegiatan ini dilandasi oleh data empiris yang menunjukkan bahwa pemilih muda akan menjadi penentu hasil Pemilu 2029. Berdasarkan rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan II Tahun 2026 yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kendari pada Juli 2026, total Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kota Kendari mencapai 257.766 pemilih. Angka ini menunjukkan dominasi signifikan dari Generasi Z dan Milenial yang diproyeksikan akan mencakup lebih dari 60% total pemilih nasional pada Pemilu 2029, mengikuti tren Pemilu 2024 di mana pemilih muda menyumbang sekitar 60% total suara. Sementara itu, berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, pengguna internet Indonesia telah menembus 229,4 juta orang dengan tingkat penetrasi 80,66%, di mana Gen Z dan Milenial menjadi kelompok pengguna paling dominan. Data ini menunjukkan bahwa pemilih pemula di Kota Kendari akan menjadi target utama kampanye digital yang memanfaatkan AI untuk memproduksi dan mendistribusikan konten politik secara massal.

Ancaman AI dalam pelaksanaan pemilu bukan lagi sekadar prediksi, melainkan telah menjadi realitas global yang mengancam integritas demokrasi. Pada Pemilihan Presiden Rumania November 2024, Mahkamah Konstitusi Rumania membatalkan hasil putaran pertama pemilu akibat campur tangan masif dari operasi bot TikTok dan interferensi asing yang memanfaatkan algoritma platform media sosial. Kasus serupa terjadi pada Pemilihan Umum Slovakia 2023, di mana deepfake audio yang menyebarkan narasi palsu terhadap kandidat pro-Barat terbukti mempengaruhi preferensi pemilih dalam hitungan hari menjelang pemungutan suara. Taiwan juga menghadapi gelombang disinformasi berbasis AI pada Pemilihan Presiden 2024, termasuk skandal deepfake yang dirancang untuk mendiskreditkan kandidat utama. Ketiga kasus ini menunjukkan bahwa AI telah berevolusi dari sekadar alat bantu menjadi senjata strategis dalam peperangan informasi (information warfare) yang dapat mengubah hasil pemilu secara signifikan. Kerangka teoritis kegiatan ini mengadopsi konsep "Information Disorder" yang dikembangkan oleh Claire Wardle dan Hossein Derakhshan dalam laporan Council of Europe tahun 2017. Wardle mengklasifikasikan gangguan informasi menjadi tiga kategori, (1) Disinformasi, yaitu informasi yang sengaja diproduksi dan disebarkan untuk menyesatkan, memengaruhi opini publik, atau mencapai tujuan politik dan ekonomi tertentu, (2) Misinformasi, yaitu informasi yang keliru namun disebarkan tanpa niat untuk merugikan pihak lain, dan (3) Malinformasi, yaitu informasi yang pada dasarnya benar tetapi digunakan di luar konteks atau disebarkan dengan tujuan merugikan pihak tertentu. Distribusi disorder information ini diperparah oleh fenomena filter bubble dan echo chamber di media sosial. Filter bubble, sebagaimana dikemukakan oleh pakar internet Eli Pariser, muncul akibat personalisasi konten daring oleh algoritma yang diyakini dapat mengisolasi pengguna internet secara intelektual serta mengurangi keragaman informasi yang mereka terima. Sementara itu, echo chamber, sebagaimana dijelaskan oleh Cass Sunstein, mengacu pada interaksi antarindividu yang memiliki pandangan atau opini seragam dalam lingkaran tertutup, sehingga terjadi penguatan keyakinan dan sudut pandang alternatif dianggap asing atau bahkan salah. Fenomena ini telah diidentifikasi oleh literatur akademik sebagai pendorong utama polarisasi politik di era digital.

Yang membedakan Pekan Literasi AI Pemilu ini dari kegiatan serupa adalah metodologi mitigasi inovatif yang dikembangkan oleh Kelompok 5 dengan pendekatan edutainment (edukasi-entertainment) berbasis budaya lokal. Tim mahasiswa memperkenalkan "Pohon Belukar Verifikasi" sebagai decision tree (pohon keputusan) empat tingkat yang mengadaptasi filosofi Tolaki "Medulu Ronga Mepokoaso" (gotong royong kita bersatu). Metode ini melibatkan empat parameter verifikasi, (1) kejelasan sumber informasi, (2) aktualitas tanggal dan versi data, (3) deteksi manipulasi emosi (apakah konten dirancang untuk memicu amarah atau ketakutan), dan (4) cross-benchmarking dengan sumber resmi seperti KPU, BPS, atau media terverifikasi.

Selain itu, Kelompok 5 menerapkan beberapa pendekatan pedagogis yang dirancang khusus untuk menjangkau pola atensi Gen Z:

  • Pola Pattern Interrupt dengan Slide Ungu "Common Sense", Presentasi diawali dengan pattern interrupt melalui slide bergaya meme ungu khas internet yang menampilkan pose "pseudo-mind" (telunjuk di pelipis) dengan teks overlay "Use Common Sense" dan "Aku Cinta Indonesia". Slide ini disajikan tanpa narasi pembuka, menciptakan keheningan canggung selama 4 detik yang berfungsi sebagai hook attention sekaligus simbolisasi pentingnya jeda kritis sebelum menerima informasi.
  • Simulasi Pilihan Informasi dengan Amplop Misteri, Dalam format permainan pilihan ganda, peserta dihadapkan pada dua amplop , satu bertuliskan "Info Viral (Katanya Asli)" dan satunya "Info Terverifikasi". Saat peserta memilih amplop "viral" dan menemukan isinya kosong, peserta mengalami langsung metafora hoax, "kemasan manis, isi angin." Ini merupakan demonstrasi langsung dari konsep reward variability dalam psikologi perilaku digital yang juga dieksploitasi oleh judi online (judol) dan slot berbasis algoritma.
  • Demonstrasi Expected Value dengan Koin, Untuk membekali siswa dengan literasi risiko, Kelompok 5 mendemonstrasikan konsep expected value melalui permainan koin "ganda atau tidak". Peserta diajak memahami bahwa matematika probabilitas sering kali bertentangan dengan sensasi dopamin, sebuah pola yang menjadi fondasi eksploitasi platform berbasis algoritma.
  • Meta-Verifikasi Kanal Resmi, Siswa diarahkan untuk menyimpan dua nomor verifikasi resmi , chatbot Kalimasada Mafindo (+62-859-2160-0500) dan WhatsApp CekFakta.com (0821-7650-3669) , kemudian ditantang untuk memverifikasi kembali nomor-nomor tersebut melalui situs resmi masing-masing lembaga. Ini menciptakan lapisan verifikasi kedua yang menjadikan siswa auditor kanal verifikasi itu sendiri.
  • Parodi Brand Impersonation "Kalimasada Crypto", Sebuah slide parodi bergaya iklan produk kripto dengan nama "Kalimasada" ditampilkan dengan watermark besar "PARODI , BUKAN PRODUK RESMI". Melalui show of hands, siswa diajak menyadari betapa mudahnya kepercayaan diproduksi hanya dengan font, warna, dan nama yang menyerupai institusi terpercaya , sebuah demonstrasi langsung imposter content dalam taksonomi Wardle.
  • Kerangka Prompt Engineering C.O.E.S.T.A.R., Siswa dibekali kerangka pembuatan prompt AI yang sistematis, Context, Objective, Example, Style, Tone, Audience, Response. Kerangka ini menjadi jembatan praktis antara teori critical AI literacy dan aplikasi sehari-hari.
  • Momen Apresiasi Prestasi Siswa, Berdasarkan data yang diizinkan oleh pihak sekolah, Kelompok 5 menyelipkan momen apresiasi terhadap prestasi siswa SMKN 1 Kendari , mulai dari projek P5 bertema anti-bullying di tingkat SMP hingga partisipasi dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) dan Uji Kompetensi Keahlian (UKK). Prestasi ini dijembatani secara naratif dengan peran baru mereka sebagai "auditor informasi" di era AI.
  • Integrasi Kompetensi Keahlian Vokasi, Simulasi diintegrasikan dengan empat kompetensi keahlian SMKN 1 Kendari , TKJ/TJKT (forensik digital), AKL (audit angka klaim), BDP (desain konten etis), dan MPLB (dokumentasi dan pelaporan) , sehingga setiap siswa dapat berkontribusi sesuai bidang keahliannya dalam ekosistem verifikasi informasi.

    Siswa juga dibekali dengan "Matriks Audit AI" yang memetakan enam risiko utama penggunaan AI dalam komunikasi politik, halusinasi (hallucination), informasi tidak aktual, bias data latih, sumber tidak jelas, misinterpretasi konteks, dan jawaban yang terlalu meyakinkan (overconfidence). Pendekatan ini tidak hanya mengajarkan siswa untuk skeptis terhadap AI, tetapi juga membekali mereka dengan alat audit sistematis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai bekal menjadi pemilih yang kritis pada Pemilu 2029.

  • Ir. Irmawanti, S.I.Kom., M.I.Kom., selaku dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Politik FISIP UHO, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari peran mahasiswa sebagai agent of control dan agent of change dalam menjaga integritas demokrasi digital.
  • "Berdasarkan data KPU Kota Kendari, total 257.766 pemilih akan berpartisipasi dalam Pemilu 2029, dan mayoritas adalah generasi muda yang sangat rentan terhadap manipulasi informasi berbasis AI. Kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori komunikasi politik, tetapi juga turun ke lapangan melakukan mitigasi nyata. Pemilih pemula harus dilatih untuk menjadi auditor informasi, bukan konsumen pasif. Filosofi Mepokoaso dari budaya Tolaki mengajarkan kita bahwa persatuan dan gotong royong adalah kunci menghadapi tantangan bersama, termasuk ancaman disorder information."

  • Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga sejalan dengan Gerakan Nasional Literasi Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia untuk mempersiapkan talenta digital unggul menghadapi era AI.
  • Septia Tania Saputri (Septi), Ketua Kelompok 5 yang memimpin tim pelaksanaan di SMKN 1 Kendari, menjelaskan bahwa pendekatan edutainment berbasis budaya lokal dipilih untuk meningkatkan relatabilitas dan efektivitas penyampaian materi kepada siswa SMK.
  • "Kami menggunakan istilah Mepokoaso sebagai simbol persatuan dalam melawan hoaks, dan Kalosara sebagai lambang adat yang mengajarkan kita untuk selalu tegak lurus pada kebenaran. Siswa SMKN 1 Kendari memiliki empat kompetensi keahlian yang kami integrasikan ke dalam simulasi, Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ/TJKT) untuk forensik digital, Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) untuk audit angka klaim, Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP/Retail) untuk desain konten etis, dan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) untuk dokumentasi dan pelaporan. Dengan demikian, setiap siswa dapat berkontribusi sesuai keahlian mereka dalam ekosistem verifikasi informasi."

  • Ia menekankan bahwa kegiatan ini tidak bertujuan untuk menolak teknologi AI, melainkan untuk membangun literasi kritis (critical AI literacy) sehingga generasi muda dapat memanfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab. "Tanya AI boleh, percaya mentah-mentah jangan , itu tagline kami, dan itu juga janji kami pada mereka," tutup Rain.
  • Output dari kegiatan ini meliputi:
  • Peningkatan skor literasi digital peserta yang diukur melalui pre-test dan post-test pada lima dimensi (cek sumber, cek tanggal, cek emosi, cek benchmark, report)
  • Produksi minimal lima konten edukatif berbasis budaya lokal yang siap viral di platform TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts
  • Dokumentasi lengkap dalam bentuk foto, video, dan laporan kegiatan yang akan diunggah ke repository akademik FISIP UHO
  • Rekomendasi kebijakan kepada KPU Kota Kendari dan Bawaslu Kota Kendari mengenai strategi mitigasi disorder information bagi pemilih pemula menjelang Pemilu 2029
  • Tentang Pekan Literasi AI Pemilu
  • Pekan Literasi AI Pemilu adalah kegiatan praktik lapangan mata kuliah Komunikasi Politik yang dilaksanakan oleh mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UHO sebagai bentuk pengabdian masyarakat dan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
  • Kontak Media
  • Koordinator Kelompok 5 – Septia Tania Saputri (Septi)
    📱 WhatsApp: +62-85849341087
    📧 Email: (septiatania85@gmail.com)
  • Hashtag Resmi
  • MepokoasoMelawanHoaks PekanLiterasiAIPemilu2029 TanyaAIBoleh CekDoloShareKemudian PemilihPemulaKendari IlkomUHO LiterasiDigitalSultra
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....