Sultra Ekspor 1.027 Ton Komoditas Unggulan
- 10 Sep 2026 12:43 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID Konawe Selatan : Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus mendorong hilirisasi sektor pertanian untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka pasar ekspor yang lebih luas.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan pelepasan ekspor perdana komoditas unggulan Sultra berupa Tepung Tapioka (Tapioca Flour) dengan volume 900 ton dengan negara tujuan China dan Minyak Kelapa (Crude Coconut Oil) volume 127 ton dengan negara tujuan Malaysia oleh PT Agri Casava Makmur di Desa Arongo, Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan, Kamis 10 September 2026.
Kepala Badan Karantina Indonesia, H. Abdul Kadir Karding, menyebut ekspor perdana tersebut merupakan langkah awal dari rencana pemerintah daerah untuk mengembangkan ekspor Sultra dalam jumlah yang lebih besar.
Oleh karena itu pihaknya siap membantu pemerintah daerah dalam menyamakan standar produk khususnya bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan kegiatan ekspor.
| Baca juga: Dampak Cuaca terhadap Harga Pangan |
Selain itu kata Kepala Badan Karantina RI juga menegaskan hilirisasi merupakan bagian dari agenda prioritas pemerintah khususnya pada sektor pertanian, perikanan dan energi, selain itu pembukaan lahan dan intensifikasi, yang didorong adalah bagaimana ada pabrik-pabrik pengolahan kakao, jambu mete, termasuk tapioka di daerah.
“Pemerintah pusat itu lewat presiden Prabowo Subianto salah satu program agenda utama prioritasnya adalah hilirisasi di bidang pertanian, perikanan, dan juga energi, makanya sekarang di dorong kesemua daerah selain pembukaan lahan dan intensifikasi tetapi juga yang di utamakan bagaimana ada pabrik pengolahan,” tutur A.K Karding.
Karding juga mengapresiasi keberadaan Tim Percepatan Ekspor Sultra. Menurutnya, tim tersebut memiliki peran penting dalam mengoptimalkan berbagai potensi komoditas daerah agar mampu menembus pasar internasional.
Karding juga pelaku usaha dan UMKM agar memperhatikan berbagai persyaratan ekspor, terutama standar kesehatan, kualitas dan mutu produk.
| Baca juga: Fluktuasi Harga Pangan akibat Cuaca |
“Yang penting para pengusaha atau UMKM ini, standar kesehatan, kualitas, mutu dan kredibilitas terpenuhi. Kalau itu terpenuhi, ekspor bisa dilaksanakan dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu Gubernur Sultra Andi Sumangerukka mengatakan ekspor perdana tersebut menjadi momentum awal untuk mengembangkan sektor pertanian dengan skala ekonomi yang lebih besar sebab Sultra tidak hanya memiliki potensi besar dari sektor pertambangan, tetapi juga memiliki kekuatan di sektor pertanian yang selama ini perlu terus dikembangkan.
“Kalau dilihat dari potensi, Sulawesi Tenggara punya potensi yang cukup besar. Selain hasil yang kita kenal dari pertambangan, pada kenyataannya sektor pertanian juga sangat menjanjikan,” tutur Andi Sumangerukka.
Gubernur juga mengatakan Pemprov Sultra akan memberikan stimulus terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong pengembangan komoditas pertanian, termasuk memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengembangan ubi kayu sebagai bahan baku tepung tapioka. Menurut Andi, kebutuhan industri dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat apabila produksi bahan baku dikembangkan secara terencana.
“Kalau nilai ekonominya menjanjikan, mau tidak mau ekspor juga akan lebih bagus. Akhirnya seperti itu,” ujarnya.
Gubernur juga menjelaskan, pemerintah akan terlebih dahulu mempertemukan para pemangku kepentingan untuk membahas kebutuhan bahan baku dan nilai ekonomi dari pengembangan ubi kayu. Setelah itu, masyarakat yang memiliki lahan dapat didorong untuk mengembangkan komoditas tersebut. Selain lahan masyarakat, lahan milik pemerintah provinsi yang memungkinkan juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan komoditas pertanian.
“Kalau masyarakat punya tanah, kita dorong. Kalau tidak punya, ada tanah yang dimiliki pemerintah provinsi yang bisa digunakan untuk penanaman komoditas,” jelasnya.
Di tempat yang sama Anggota DPR RI Komisi IV asal Sultra Jaelani, mengatakan sektor pertanian memiliki posisi strategis dalam struktur perekonomian Sultra, sebab sektor pertanian memberikan kontribusi sekitar 23 persen terhadap PDRB Sultra, sektor pertambangan sekitar 21 persen, dan perdagangan sekitar 20 persen.
“Artinya, sektor pertanian adalah potensi yang sangat luar biasa untuk kita kembangkan,” kata Jaelani.
Lebih lanjut Jaelani menyatakan siap mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk memperkuat fasilitas yang dibutuhkan petani maupun industri pertanian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....