Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Indonesia Diingatkan
- 07 Sep 2026 20:28 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Indonesia. Hingga Senin (7/9/2026), erupsi tersebut dilaporkan berdampak terhadap lebih dari 270 ribu penumpang dan mengganggu lebih dari 2.300 penerbangan. Sejumlah bandara juga sempat ditutup akibat sebaran abu vulkanik.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Minggu (6/9/2026) dini hari telah berakhir, namun aktivitas vulkanik masih dipantau karena kegempaan tetap tinggi. Masyarakat, wisatawan, dan nelayan diimbau tidak mendekati pusat aktivitas gunung dalam radius tiga kilometer. (Badan Geologi, 2026).
Erupsi Anak Krakatau juga menjadi pengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik tertinggi di dunia. Indonesia berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yaitu wilayah di sekitar Samudra Pasifik yang menjadi salah satu zona paling aktif untuk aktivitas gempa bumi dan gunung api. Kawasan tersebut terbentuk karena pertemuan dan pergerakan sejumlah lempeng tektonik. (USGS, 2026).
Secara geografis, jalur Ring of Fire melewati sejumlah negara, antara lain Jepang, Filipina, Indonesia, hingga Selandia Baru, serta membentang di sepanjang wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan. Di Indonesia, jalur tersebut berkaitan dengan zona subduksi dan pertemuan lempeng yang membuat aktivitas vulkanik dan kegempaan relatif tinggi. (USGS, 2026).
Indonesia memiliki lebih dari 100 gunung api aktif. Data yang disampaikan Kementerian ESDM mencatat terdapat sekitar 127 gunung api aktif, dengan 69 di antaranya dipantau secara intensif. Posisi Indonesia di antara berbagai lempeng tektonik menjadi salah satu faktor utama yang menjelaskan tingginya aktivitas vulkanik tersebut. (Kementerian ESDM, 2019).
Secara geologi, pergerakan lempeng dapat membentuk zona subduksi, yakni ketika satu lempeng bergerak masuk ke bawah lempeng lainnya. Proses tersebut dapat memicu gempa bumi sekaligus menyediakan kondisi yang memungkinkan terbentuk dan naiknya magma ke permukaan. Karena itu, wilayah Ring of Fire tidak hanya identik dengan gunung api, tetapi juga memiliki potensi gempa bumi dan tsunami. (USGS, 2026).
Gunung Anak Krakatau sendiri memiliki sejarah panjang. Gunung ini merupakan bagian dari kawasan Krakatau yang mengalami letusan besar pada 1883 dan memicu tsunami dengan korban jiwa lebih dari 36 ribu orang. Pada 2018, aktivitas Anak Krakatau juga memicu tsunami di pesisir Banten dan Lampung yang menewaskan lebih dari 400 orang. Namun, dalam rangkaian erupsi terbaru, belum ada laporan korban jiwa.
Selain Anak Krakatau, Gunung Semeru juga mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026). Aktivitas tersebut menunjukkan dinamika gunung api yang terus berlangsung di Indonesia. Pemerintah melalui Badan Geologi dan PVMBG melakukan pemantauan secara berkala untuk mengantisipasi perubahan aktivitas serta memberikan rekomendasi kepada masyarakat.
Erupsi Anak Krakatau menjadi gambaran nyata konsekuensi Indonesia berada di kawasan Ring of Fire. Kondisi geologis tersebut menghadirkan risiko bencana, tetapi di sisi lain juga berperan dalam membentuk bentang alam dan tanah vulkanik yang subur di berbagai wilayah Indonesia. Karena itu, pemantauan aktivitas gunung api dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi kehidupan di kawasan dengan aktivitas geologi tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....