Pemkab Konsel Imbau Kewaspadaan Potensi Karhutla
- 28 Agt 2026 15:27 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Ancaman kebakaran hutan dan lahan mulai meningkat di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, seiring kondisi kemarau yang membuat sejumlah kawasan semakin kering.
Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan mencatat sekitar empat hingga lima kejadian kebakaran lahan terjadi dalam satu bulan terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hampir seluruh wilayah di daerah itu masih memiliki kawasan hutan dan lahan terbuka yang rentan terbakar.
Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo, mengatakan potensi karhutla tidak hanya berada pada wilayah tertentu, tetapi tersebar di hampir seluruh kecamatan yang memiliki kawasan hutan di luar area permukiman.
“Hampir di semua titik di Konsel agak rawan karena masing-masing punya hutan, itu di luar perumahan. Jadi memang kita harus waspada karena ketika kondisi kemarau seperti sekarang, kawasan yang ditumbuhi vegetasi kering akan lebih mudah terbakar dan api juga bisa cepat merambat,” kata Irham, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, kejadian kebakaran yang muncul dalam beberapa pekan terakhir menjadi gambaran bahwa ancaman karhutla perlu mendapat perhatian serius. Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Kondisi cuaca yang panas dan minimnya curah hujan membuat material yang berada di lahan lebih mudah terbakar. Api yang awalnya muncul dalam skala kecil juga berpotensi meluas apabila tidak segera diketahui dan ditangani.
Selain melakukan pemantauan, pemerintah daerah mendorong masyarakat untuk ikut menjaga kawasan di sekitar tempat tinggal maupun lahan yang dikelola.
Aktivitas yang menggunakan api perlu dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak memicu kebakaran.
Irham menyebutkan, kesiapsiagaan menghadapi karhutla perlu dilakukan secara bersama-sama karena luas wilayah Konawe Selatan cukup besar. Penanganan tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam mencegah munculnya titik api.
“Dalam kondisi seperti ini kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau petugas di lapangan. Masyarakat juga harus ikut menjaga dan melaporkan apabila melihat adanya titik api. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula kita bisa melakukan penanganan sebelum api meluas ke kawasan lain,” ujarnya.
Konawe Selatan memiliki 25 kecamatan, yakni Tinanggea, Lalembuu, Andoolo, Andoolo Barat, Buke, Palangga, Palangga Selatan, Baito, Lainea, Laeya, Kolono, Kolono Timur, Laonti, Moramo, Moramo Utara, Konda, Wolasi, Ranomeeto, Ranomeeto Barat, Landono, Mowila, Sabulakoa, Angata, Benua dan Basala.
Sebaran wilayah yang luas dengan keberadaan kawasan hutan di berbagai kecamatan membuat pengawasan terhadap karhutla membutuhkan koordinasi lintas sektor. Pemerintah daerah juga perlu memastikan informasi mengenai titik rawan dapat diterima dengan cepat oleh petugas di lapangan.
Ancaman karhutla juga menjadi bagian dari kesiapsiagaan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada September hingga Oktober 2026.
Kondisi tersebut diperkirakan dapat meningkatkan potensi kebakaran apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan kewaspadaan, pemantauan kawasan rawan serta respons cepat ketika ditemukan titik api. Upaya pencegahan dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan kerusakan lingkungan maupun kerugian bagi masyarakat.
Dengan memasuki periode kemarau yang lebih panjang, kesiapsiagaan seluruh pihak menjadi kunci untuk menekan risiko karhutla di Konawe Selatan. Masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api dan segera melaporkan setiap kejadian kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....