BMKG Kendari Ingatkan Risiko Kebakaran Meningkat saat Kemarau

  • 25 Agt 2026 21:37 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Tenggara mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama kondisi kemarau yang berlangsung di sejumlah wilayah Sultra.

Peringatan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sultra, Kusairi, menyusul kondisi cuaca kering yang meningkatkan kemudahan terbakar pada vegetasi dan material di permukaan tanah.

Kusairi mengatakan, berdasarkan data dasarian III Agustus 2026 atau periode 10 hari terakhir bulan Agustus, hampir seluruh wilayah Sulawesi Tenggara diprediksi memiliki tingkat kemudahan terbakar.

Kondisi tersebut terutama terjadi pada lapisan atas permukaan tanah yang berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Hanya sebagian wilayah Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara yang diperkirakan tidak berada dalam kondisi tersebut.

“Seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara diharapkan terus waspada terhadap berbagai dampak perubahan iklim di sekitar kita. Kondisi kering seperti saat ini dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama apabila terdapat sumber api di sekitar lahan atau kawasan yang memiliki material mudah terbakar,” ujarnya, Selasa 25 Agustus 2026.

Menurutnya, kondisi permukaan tanah yang kering menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan masyarakat. Vegetasi dan material yang kehilangan banyak kandungan air akan lebih mudah terbakar ketika terkena sumber panas atau api.

Potensi tersebut juga perlu diwaspadai karena aktivitas masyarakat sehari-hari dapat menjadi pemicu kebakaran apabila tidak dilakukan secara hati-hati. Pembakaran sampah, pembersihan lahan menggunakan api serta pembuangan puntung rokok sembarangan dapat meningkatkan risiko munculnya titik api.

Kewaspadaan masyarakat menjadi semakin penting ketika kondisi cuaca kering berlangsung dalam periode yang cukup panjang. Api yang awalnya berasal dari sumber kecil dapat lebih mudah merambat apabila mengenai rerumputan, alang-alang atau material kering lainnya.

Kondisi kemudahan terbakar tersebut sejalan dengan meningkatnya kasus kebakaran lahan di Kota Kendari selama Agustus 2026. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Kendari sebelumnya mencatat 29 kasus kebakaran lahan atau kebun sepanjang bulan tersebut.

Selain kebakaran, kondisi defisit curah hujan juga berpotensi memengaruhi ketersediaan air di sejumlah wilayah. Masyarakat karena itu perlu menggunakan air secara bijak dan menyesuaikan pemanfaatannya dengan kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah Kota Kendari telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kering melalui Keputusan Wali Kota Kendari Nomor 600 Tahun 2026 tertanggal 11 Agustus 2026. Status tersebut mencakup ancaman defisit curah hujan serta kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kota Kendari.

Kusairi mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi lingkungan selama periode kemarau. Upaya sederhana seperti tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan dan segera melaporkan apabila melihat potensi sumber api menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran.

“Seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara diharapkan terus waspada terhadap berbagai dampak perubahan iklim di sekitar kita. Jangan sampai kondisi lingkungan yang kering ditambah aktivitas manusia yang kurang berhati-hati kemudian memicu kebakaran yang dapat merugikan masyarakat dan lingkungan,” pungkasnya.

Kewaspadaan bersama diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran selama periode kemarau. Masyarakat juga diimbau mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG serta meningkatkan perhatian terhadap kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal dan aktivitas masing-masing.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....