Mutiara Pagi: Keimanan kepada Perkara Ghaib Menjadi Pondasi Ketakwaan Seorang

  • 24 Agt 2026 06:26 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - KENDARI – Keimanan kepada perkara ghaib menjadi salah satu pondasi utama dalam membentuk pribadi muslim yang bertakwa. Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif Mutiara Pagi RRI Kendari yang mengangkat tema "Mengokohkan Keimanan Pada Perkara Ghaib", menghadirkan narasumber Dirman, S.Pd.I., M.Pd.I.

Dalam perbincangan tersebut dijelaskan bahwa perkara ghaib merupakan segala sesuatu yang berada di luar jangkauan pancaindra manusia, namun keberadaannya diyakini berdasarkan wahyu Allah dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Keimanan terhadap Allah, malaikat, hari akhir, surga, neraka, qada dan qadar merupakan bagian dari perkara ghaib yang wajib diyakini oleh setiap muslim.

Dirman menjelaskan bahwa Allah menjadikan keimanan kepada perkara ghaib sebagai ciri pertama orang-orang yang bertakwa sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 3. Menurutnya, keyakinan terhadap sesuatu yang tidak terlihat merupakan bentuk ketundukan seorang hamba kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

"Keimanan kepada perkara ghaib bukan sekadar percaya terhadap sesuatu yang tidak tampak, tetapi merupakan bentuk kepatuhan kepada Allah atas seluruh berita yang disampaikan melalui Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah. Inilah pondasi yang akan menguatkan kualitas ibadah dan akhlak seorang muslim," ujar Dirman.

Dalam dialog tersebut juga dibahas tantangan menjaga keimanan di tengah perkembangan zaman yang semakin mengedepankan logika dan pembuktian ilmiah. Meski ilmu pengetahuan berkembang pesat, keimanan terhadap perkara ghaib tidak bertentangan dengan akal sehat, karena sumber keyakinan seorang muslim adalah wahyu Allah yang bersifat mutlak.

Dirman menegaskan bahwa Islam mendorong umatnya menggunakan akal untuk berpikir, namun tetap menempatkan wahyu sebagai pedoman utama ketika berbicara mengenai perkara-perkara yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra.

"Tidak semua yang benar harus dapat dilihat oleh mata. Banyak hal yang kita yakini dalam kehidupan berdasarkan bukti dan informasi yang terpercaya. Begitu pula perkara ghaib, seorang muslim meyakininya karena Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkannya dengan benar," jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar mampu membedakan antara keimanan kepada perkara ghaib dengan praktik-praktik yang dilarang dalam Islam seperti mempercayai ramalan, perdukunan, atau mitos yang tidak memiliki dasar syariat. Menurut Dirman, perkara ghaib yang wajib diyakini hanyalah yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis yang sahih.

Keimanan kepada malaikat pencatat amal, lanjutnya, juga memiliki dampak nyata terhadap perilaku sehari-hari. Seseorang yang menyadari setiap ucapan dan perbuatannya dicatat akan lebih berhati-hati dalam bertindak, menjaga lisan, menjunjung kejujuran, serta menghindari perbuatan yang merugikan orang lain.

Tidak hanya itu, keyakinan terhadap hari akhir diyakini mampu membangun karakter yang bertanggung jawab. Kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah mendorong seseorang untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan.

Dirman juga mengajak umat Islam untuk terus memperkuat keimanan melalui membaca dan mentadabburi Al-Qur'an, memperbanyak ibadah, menghadiri majelis ilmu, serta memperbaiki kualitas doa agar hati senantiasa diberikan keteguhan dalam iman.

"Keimanan itu harus terus dipelihara. Semakin seseorang mengenal Allah melalui Al-Qur'an, memperbanyak ibadah, dan berada di lingkungan yang baik, maka semakin kokoh pula keyakinannya terhadap perkara-perkara ghaib yang telah Allah tetapkan," tuturnya.

Melalui dialog tersebut, pendengar diajak menjadikan keimanan kepada perkara ghaib bukan hanya sebagai pengetahuan, melainkan sebagai landasan dalam menjalani kehidupan. Dengan iman yang kokoh, seorang muslim akan lebih optimistis menghadapi berbagai ujian, senantiasa berbuat baik, serta memiliki harapan yang besar terhadap rahmat dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....