Produksi Sampah Kendari Hampir 300 Ton per Hari, Pemkot Siapkan LPS di 15 Kelurahan

  • 15 Agt 2026 15:22 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari – Produksi sampah di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), hampir mencapai 300 ton per hari. Pemerintah Kota Kendari menyiapkan Lembaga Pengangkut Sampah (LPS) di 15 kelurahan sebagai langkah baru untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, mengatakan sebagian besar sampah berasal dari rumah tangga. Namun, pengelolaannya belum optimal karena kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya masih rendah. Hal itu disampaikan saat berdialog dengan masyarakat dalam kegiatan Wali Kota dan Forkopimda Menyapa di Pantai Nambo, Kecamatan Nambo, Kamis (13/8/2026).

“Yang paling utama adalah kesadaran kita memilah sampah dari rumah masih sangat rendah,” kata Siska.

Selain persoalan kesadaran masyarakat, Pemkot Kendari menghadapi keterbatasan armada pengangkut sampah. Sejumlah kendaraan bahkan sudah tidak layak digunakan. Kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Puuwatu yang semakin terbatas juga dinilai membutuhkan perubahan sistem pengelolaan sampah dengan melibatkan masyarakat sejak dari rumah.

Melalui program LPS, sampah rumah tangga akan diambil dari rumah warga untuk selanjutnya dibawa ke TPA Puuwatu. Sebelum diangkut, masyarakat akan diminta memilah sampah berdasarkan jenis, seperti organik, anorganik, dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Pemerintah juga mendorong setiap kelurahan mengaktifkan bank sampah untuk mengelola sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Program tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada awal September 2026 dan akan diterapkan lebih dahulu di 15 kelurahan percontohan yang tersebar di delapan kecamatan. Kelurahan tersebut yakni Watuwatu dan Lahundape, Baruga, Kasilampe dan Kendari Caddi, Lalolara dan Padaleu, Korumba, Anduonohu dan Rahandouna, Watulondo, Punggolaka dan Lalodati, serta Anaiwoi dan Mataiwoi.

Siska menegaskan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan pemerintah tanpa keterlibatan masyarakat. Menurutnya, kebiasaan memilah sampah dari rumah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

“Kota Kendari tidak akan nyaman, tidak akan maju kalau sampah masih terdepan. Oleh karena itu, semuanya harus kita fokuskan perhatian kita terhadap penanganan sampah ini,” tegasnya.

Dalam dialog tersebut, masyarakat juga menyampaikan sejumlah persoalan lain, di antaranya penerangan jalan, kerusakan ruas jalan, serta lalu lintas di sekitar sekolah. Siska mengatakan pertemuan dengan masyarakat menjadi ruang bagi pemerintah untuk mengetahui persoalan berdasarkan kondisi langsung di lapangan.

Selain itu, Pemkot Kendari merencanakan dukungan pendanaan untuk penanganan sampah pada 2027. Pemerintah kota disebut telah memperoleh alokasi sekitar Rp140 miliar melalui program yang melibatkan pemerintah pusat dan Bank Dunia. Dana tersebut akan diarahkan untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dan mendorong penerapan ekonomi sirkular.

Siska menegaskan keberhasilan program pengelolaan sampah tetap bergantung pada peran masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....