Tujuh Titik di Sultra Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan

  • 12 Agt 2026 11:02 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Polda Sulawesi Tenggara menyiapkan 631 personel gabungan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga November 2026 di Sulawesi Tenggara.

Kapolda Sultra Irjen Pol Himawan Bayu Aji mengatakan berdasarkan pemetaan Biro Operasi Polda Sultra terdapat tujuh titik rawan karhutla yang tersebar di empat kabupaten, yakni dua titik di Kabupaten Bombana, satu titik di Kabupaten Kolaka Utara, satu titik di Kabupaten Konawe Utara, dan tiga titik di Kabupaten Konawe Selatan.

“Fenomena El Nino juga harus kita waspadai, seluruh jajaran di Sulawesi Tenggara harus mempersiapkan langkah penanggulangan karhutla secara optimal,” ujar Himawan.

Menurutnya, kesiapsiagaan dilakukan dengan melibatkan Polri/TNI, Dinas Kehutanan, BPBD Sultra, Basarnas, Dinas Pemadam Kebakaran, BMKG Sultra, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya melalui pemantauan wilayah rawan, edukasi masyarakat, deteksi dini, dan percepatan respons apabila terjadi kebakaran.

Kapolda menyebutkan sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah terjadi karhutla di wilayah Kota Baubau dan Kabupaten Kolaka Utara sehingga pemantauan dan langkah pencegahan perlu diperkuat pada daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Sementara itu, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Sultra, Faizal Habibie, mengatakan musim kemarau diprediksi berlangsung hingga November dengan Agustus dan September menjadi periode puncak kemarau sehingga potensi kekeringan dan kebakaran meningkat.

“Untuk saat ini memang ada beberapa daerah yang perlu diwaspadai, seperti Bombana, Kolaka, Konawe Selatan, dan hampir di seluruh kabupaten/kota di bagian selatan Sulawesi Tenggara,” kata Faizal.

Faizal mengatakan BMKG masih memantau sejumlah titik yang berpotensi mengalami kebakaran, termasuk wilayah Bombana, terutama kawasan yang memiliki lahan savana, sementara hari tanpa hujan yang cukup panjang juga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran.

Selain ancaman karhutla, BMKG mengingatkan masyarakat untuk melakukan efisiensi penggunaan air karena kondisi kering juga berdampak terhadap kebutuhan irigasi dan kebutuhan sehari-hari, khususnya di wilayah selatan Sulawesi Tenggara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....