Bahasa dan Tradisi Tunuha pada Masyarakat Muna
- 05 Agt 2025 08:51 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari: Paguyuban Muna kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian budaya lokal melalui dialog budaya yang digelar di Studio Pro 4 RRI Kendari, Rabu (30/7/2025). Acara bertajuk “Bahasa dan Tradisi Tunuha pada Masyarakat Muna” ini merupakan bagian dari program Dialog Tamu Pro Omba yang secara rutin menyoroti isu-isu budaya daerah.
Hadir sebagai narasumber dua tokoh akademisi dan budayawan terkemuka asal Muna, yakni Prof. Dr. La Ode Sidu Marafad, MS, pakar budaya dan bahasa Muna, serta Prof. Dr. La Ino, S.Pd, M.Hum, ahli linguistik daerah Muna. Keduanya membahas secara mendalam pentingnya pelestarian bahasa daerah serta makna filosofis tradisi Tunuha dalam kehidupan masyarakat Muna.
Dialog dipandu oleh Wulandasary, yang secara apik menggali pandangan kedua narasumber tentang tantangan modernisasi terhadap eksistensi bahasa Muna serta transformasi nilai dalam tradisi Tunuha — sebuah ritual adat yang berkaitan erat dengan nilai spiritual dan sosial masyarakat Muna.
Dalam perbincangan, Prof. La Ode Sidu Marafad menekankan bahwa bahasa Muna bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga media pewarisan nilai dan identitas. Ia mengingatkan pentingnya intervensi pendidikan lokal dalam mengintegrasikan bahasa Muna ke dalam kurikulum muatan lokal, serta perlunya revitalisasi penggunaan bahasa di ruang publik.
Sementara itu, Prof. La Ino menyoroti sisi linguistik dan struktural dari bahasa Muna yang menurutnya memiliki kekayaan kosakata serta sistem tata bahasa yang kompleks dan khas. Ia juga menyampaikan hasil riset terbarunya mengenai pergeseran dialek Muna di kalangan generasi muda dan pentingnya dokumentasi linguistik secara digital.
Acara ini mendapat respons positif dari masyarakat pendengar, khususnya komunitas Muna di Sulawesi Tenggara. Dialog ini juga menjadi momentum penting bagi Paguyuban Muna dalam menghidupkan kembali peran tradisi dan bahasa daerah sebagai bagian dari kekuatan budaya nasional.
Rangkaian acara ditutup dengan pesan dari kedua narasumber agar seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, tidak hanya bangga menjadi orang Muna, tetapi juga aktif menjaga dan mewariskan bahasa serta tradisi leluhur mereka.
Paguyuban Muna kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian budaya lokal melalui dialog budaya yang digelar di Studio Pro 4 RRI Kendari, Rabu (30/07/2025). Acara bertajuk “Bahasa dan Tradisi Tunuha pada Masyarakat Muna” ini merupakan bagian dari program Dialog Tamu Pro Omba yang secara rutin menyoroti isu-isu budaya daerah.
Hadir sebagai narasumber dua tokoh akademisi dan budayawan terkemuka asal Muna, yakni Prof. Dr. La Ode Sidu Marafad, MS, pakar budaya dan bahasa Muna, serta Prof. Dr. La Ino, S.Pd, M.Hum, ahli linguistik daerah Muna. Keduanya membahas secara mendalam pentingnya pelestarian bahasa daerah serta makna filosofis tradisi Tunuha dalam kehidupan masyarakat Muna.
Dialog dipandu oleh pewawancara Wulandasary, yang secara apik menggali pandangan kedua narasumber tentang tantangan modernisasi terhadap eksistensi bahasa Muna serta transformasi nilai dalam tradisi Tunuha — sebuah ritual adat yang berkaitan erat dengan nilai spiritual dan sosial masyarakat Muna.
Dalam perbincangan, Prof. La Ode Sidu Marafad menekankan bahwa bahasa Muna bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga media pewarisan nilai dan identitas. Ia mengingatkan pentingnya intervensi pendidikan lokal dalam mengintegrasikan bahasa Muna ke dalam kurikulum muatan lokal, serta perlunya revitalisasi penggunaan bahasa di ruang publik.
Sementara itu, Prof. La Ino menyoroti sisi linguistik dan struktural dari bahasa Muna yang menurutnya memiliki kekayaan kosakata serta sistem tata bahasa yang kompleks dan khas. Ia juga menyampaikan hasil riset terbarunya mengenai pergeseran dialek Muna di kalangan generasi muda dan pentingnya dokumentasi linguistik secara digital.
Acara ini mendapat respons positif dari masyarakat pendengar, khususnya komunitas Muna di Sulawesi Tenggara. Dialog ini juga menjadi momentum penting bagi Paguyuban Muna dalam menghidupkan kembali peran tradisi dan bahasa daerah sebagai bagian dari kekuatan budaya nasional.
Rangkaian acara ditutup dengan pesan dari kedua narasumber agar seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, tidak hanya bangga menjadi orang Muna, tetapi juga aktif menjaga dan mewariskan bahasa serta tradisi leluhur mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....