Kabhanti Gambusu Seni Bernyanyi Masyarakat Muna
- 31 Okt 2024 16:35 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari: Kabhanti Gambusu merupakan seni bernyanyi dan bermusik yang berkembang dalam masyarakat Sulawesi Tenggara.
Kesenian ini dapat di jumpai di wilayah seperti Buton, Bau-Bau, Buton Tengah, Buton Selatan, Buton Utara, Wakotobi, dan Muna.
Bahasa Muna sebagai bahasa daerah masyarakat Muna di kabupaten Muna provinsi Sulawesi Tenggara mempunyai dimensi komunikatif dan dimensi budaya. Dimensi komunikatif melihat bahasa dalam fungsinya sebagai transmisi pesan, sedangkan dimensi budaya masyarakat, bahasa sebagai wahana untuk mengekspresikan makna budaya.
Sastra lisan kabhanti Gambusu dimanfaatkan masyarakat Muna untuk memelihara budaya serta media pendidikan budaya bagi generasi muda. Hanya saja generasi muda sebagai ahli waris sastra lisan ini, kini mereka tidak tertarik lagi untuk mempelajari sastra lisan kabhanti Gambusu.
Kabhanti Gambusu salah satu sastra lisan dan pantun dinyanyikan yang dimiliki masyarakat Muna yang dipertunjukkan di hadapan khalayak dengan menggunakan alat musik tradisional Gambusu 'Gambus' serta botol kosong, paku, atau pemukul lainya.
Tradisi kabhanti Gambusu ini kerap ditampilkan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, pingitan, akikah, dan acara lainnya.
Tak ada yang tahu pasti sejarah masuknya kabhanti Gambusu ke daerah Muna. Namun, diyakini tradisi ini sudah ada sebelum Indonesia merdeka atau sejak zaman penjajahan Belanda.
Dalam penelitian yang dilakukan La Sudu (2012), saat menyelesaikan program magister di program studi ilmu susastra peminatan budaya pertunjukkan, fakultas ilmu pengetahuan budaya, Universitas Indonesia, mendapati kabhanti Gambusu di mulai sejak zaman pemerintahan Raja muna, La Ode Dika(1928-1942).
Pada masa pemerintahan La Ode Dika ini diyakini lahirlah nyanyian /Kabhanti yang menceritakan tentang kota muna, nyanyian rakyat itu sampai sekarang menjadi ingatan kolektif para ketua suku Muna.
Masih dalam penelitian La Sudu, ada beberapa nilai yang terkandung di dalam kabhanti gambusu.
Pertama nilai kebersamaan. Hal ini terlihat bahwa dalam kabhanti gambusu tidak hanya dilakukan oleh satu orang saja, tetapi mencakup beberapa orang bahkan sekelompok masyarakat.
Dengan keahliannya masing-masing mereka mampu menghasilkan nyanyian musik gambus yang enak didengar oleh para pendengar yang berada di tempat terlaksananya tradisi tersebut.
Kedua nilai estetika dari keindahan pelaksanaan tradisi kabhanti gambusu. Hal ini terlihat dari segi botol kaca yang dijadikan alat musik dengan bantuan sendok dapur dapat menghasilkan irama yang sejalan dengan musik gambus yang dimainkan.
Nilai berikutnya adalah nilai etika. Dari isi pantun yang dinyanyikan ada nilai etika yang disampaikan untuk para pendengar pantun. Dari sisi tersebutlah kita dapat mengambil etika-etika yang patut diikuti atau diteladani oleh para masyarakat, terutama generasi muda.
Berikutnya nilai percintaan. Khabanti gambusu diketahui digunakan juga sebagai sarana pengungkapan perasaan cinta muda-mudi.
Terakhir nilai nasehat. Kahbanti gambusu digunakan sebagai alat untuk mendidik atau memberi nasehat.
(Nur Yuyun Sagita Putri - UHO)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....