Apakah Red Bull Benar-Benar Sudahi Keunggulan McLaren?

  • 29 Sep 2025 14:01 WIB
  •  Kendari

KBRN, Kendari: Max Verstappen kembali meramaikan perebutan gelar Kejuaraan Dunia Formula 1 setelah meraih kemenangan beruntun di Italia dan Azerbaijan. Tambahan poin itu membuat selisihnya dengan Oscar Piastri terpangkas 35 angka, sehingga kini jarak keduanya menyempit menjadi 69 poin. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah dominasi McLaren benar-benar mulai terguncang, ataukah dua seri terakhir hanya hasil dari kombinasi kondisi khusus di lintasan?

McLaren Tidak Selalu Menjadi Mobil TercepatSepanjang musim 2025, McLaren jarang kehilangan status mobil tercepat. Dari 17 seri yang sudah berlangsung, hanya lima kali mereka tidak memegang keunggulan kecepatan: di Arab Saudi, Imola, Kanada, Monza, dan Baku. Bahkan, kecuali Azerbaijan, selisih kecepatan per lap dengan pesaing terdekat tidak pernah lebih dari dua persepuluh detik. Karena itu, performa yang lesu di Baku menjadi bahan evaluasi serius.Menurut data, Lando Norris tertinggal rata-rata 0,56 detik per lap dari Max Verstappen pada balapan di Baku. Namun, angka ini dianggap menyesatkan. Lando Norris hampir sepanjang lomba terjebak di belakang mobil lain, sehingga kesulitan memaksimalkan potensinya. Saat berada di lintasan bersih pada putaran awal setelah pit stop, Lando Norris sempat mampu menandingi ritme Max Verstappen dengan selisih hanya sepersepuluh detik. Sayangnya, begitu kembali di belakang Yuki Tsunoda, gangguan aliran udara membuat kecepatannya kembali teredam.

Kesalahan Kualifikasi Menjadi Titik BalikKunci lain kegagalan Lando Norris di Baku ada pada sesi kualifikasi. Kesalahan besar di Tikungan 15 pada Q3 membuatnya kehilangan lebih dari setengah detik. Padahal, catatan waktunya di Q1 maupun Q2 cukup untuk mengantarnya ke barisan depan, bahkan hanya terpaut dua persepuluh dari Max Verstappen.Analisis telemetri menunjukkan bahwa tanpa kesalahan tersebut, posisi start ketiga (P3) adalah hasil paling realistis bagi Lando Norris. Artinya, peluang mengalahkan Carlos Sainz Jr dan finish di posisi dua (P2) terbuka lebar. Dengan kecepatan McLaren yang pada dasarnya menjadi tim kedua tercepat di Baku, hasil akhir 18 poin hampir pasti dapat diamankan. Namun, karena start buruk, Max Verstappen justru tampak terlalu dominan.

Keterbatasan MCL39 di Lintasan CepatHasil berbeda McLaren di Monza dan Baku dibandingkan Hungaria dan Zandvoort bukan kebetulan. Konsep desain MCL39 fokus pada pencapaian downforce maksimum, sehingga unggul di tikungan menengah hingga cepat. Sebaliknya, di trek dengan karakteristik panjang lintasan lurus dan kebutuhan top speed tinggi, kelemahannya sulit ditutupi.Di Spa-Francorchamps, McLaren masih bisa menutupi kekurangan lewat sektor kedua yang teknis. Tetapi di Monza dan Baku, paket itu tidak lagi memadai. Lebih jauh lagi, faktor yang biasanya menjadi kekuatan McLaren tahun ini, yakni efisiensi penggunaan ban, tidak banyak berpengaruh di dua seri tersebut. Dengan tingkat degradasi ban rendah, semua tim mampu menjaga performa ban, sehingga keunggulan McLaren di aspek ini menghilang.

Red Bull Mulai Pulih, Tapi McLaren Masih UnggulPerlu diakui, Red Bull sudah melakukan langkah perbaikan. Perubahan prosedur kerja akhir pekan dan pembaruan lantai yang digunakan sejak Monza terbukti membantu RB21 tampil lebih konsisten. Akan tetapi, keunggulan Max Verstappen di Italia dan Azerbaijan lebih mencerminkan karakteristik lintasan yang tidak ramah bagi McLaren ketimbang bukti dominasi mutlak Red Bull.Dengan kalender berikutnya menuju Singapura, peluang McLaren diprediksi kembali terbuka lebar. Marina Bay memiliki banyak tikungan, tetapi lintasan lurus panjang tidak lagi menjadi faktor dominan. Tahun lalu, Lando Norris bahkan mampu unggul lebih dari 20 detik di sana. Sebaliknya, Max Verstappen belum pernah sekalipun meraih kemenangan di sirkuit jalan raya tersebut.

Seri Penentu Ada di AustinKendati begitu, seri yang paling krusial diyakini adalah Austin dua pekan setelah Singapura. Karakteristik Circuit of the Americas, dengan kombinasi tikungan cepat yang panjang, sangat sesuai dengan filosofi MCL39. Ditambah lagi, balapan sprint di Austin, Brasil, dan Qatar berpotensi memberi McLaren keuntungan poin tambahan.

Penilaian AkhirDua seri terakhir memang memperlihatkan bahwa Red Bull belum habis, tetapi sulit menyimpulkan McLaren sudah kehilangan kendali. Jika McLaren kembali melempem di Singapura maupun Austin, barulah tanda bahaya akan benar-benar berbunyi. Namun sejauh ini, data masih berpihak pada tim Woking. Singkatnya: momentum Red Bull memang kembali, tetapi McLaren tetaplah kandidat utama untuk menguasai musim ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....