Kalcer, Lifestyle Baru Anak Gen Z

  • 18 Jun 2025 07:56 WIB
  •  Kendari

KBRN, Kendari: Fenomena “Kalcer” atau culture belakangan ini tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah ini bukan hanya tren sesaat, tetapi menjadi cerminan perubahan gaya hidup anak muda, khususnya Gen Z. Mereka tak lagi hanya menjadi konsumen budaya, tetapi juga turut membentuk dan memodifikasi nilai-nilai budaya yang mereka jalani sehari-hari. Dari cara berpakaian, selera musik, hingga gaya nongkrong, semua terbungkus dalam satu kata: Kalcer.

Kalcer yang diadopsi oleh Gen Z tidak melulu bersifat global atau mengacu pada budaya luar negeri. Justru, saat ini banyak anak muda yang dengan bangga memamerkan gaya lokal seperti berpakaian dengan nuansa etnik, menghidupkan kembali tren tahun 90-an, atau menjadikan kopi susu literan dan warung jajan jadul sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Media sosial menjadi etalase utama bagi mereka untuk mengekspresikan “kalcer” versi masing-masing.

Menurut Dr. Nina Sasmita, sosiolog budaya dari Universitas Indonesia, "Kalcer pada Gen Z bukan sekadar ikut-ikutan. Ini adalah bentuk ekspresi diri yang lebih dalam, dan kadang menjadi bentuk perlawanan terhadap norma yang dianggap kaku atau usang."

Ia menambahkan bahwa fenomena ini juga didorong oleh keterhubungan digital yang membuat referensi budaya menjadi lebih luas dan cepat tersebar.

Salah satu konten kreator muda asal Bandung, Azka Rahma (22), menyebutkan bahwa kalcer membuatnya lebih percaya diri. “Kalcer itu bukan tentang keren-kerenan doang. Lewat gaya dan aktivitas yang aku pilih, aku bisa tunjukin siapa aku sebenarnya. Aku juga bangga bawa unsur lokal, kayak batik atau bahasa daerah, biar makin beda dari yang lain,” ujarnya.

Dengan berkembangnya kalcer sebagai gaya hidup, Gen Z menunjukkan bahwa identitas mereka tidak bisa lagi disederhanakan. Kalcer adalah hasil dari kolaborasi antara globalisasi, teknologi, dan kebutuhan akan jati diri. Tren ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan—bagaimana menjaga orisinalitas di tengah banjir informasi, sekaligus menjadikan budaya lokal tetap relevan di tengah gempuran budaya global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....