Mengenal Waje Kudapan Tradisional Manis Khas Sultra

  • 25 Mei 2026 21:37 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari – Di tengah maraknya gempuran kuliner modern, masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) tetap konsisten menjaga kelestarian panganan tradisional yang sarat akan nilai budaya. Salah satu kudapan yang hingga kini masih menjadi primadona di wilayah Pulau Muna dan Buton adalah Waje atau yang akrab disebut Wadhe. Kue berbahan dasar ketan ini bukan sekadar hidangan manis, melainkan simbol keramah-tamahan yang selalu hadir dalam setiap hajatan adat maupun pertemuan keluarga besar.

Dilansir dari ulasan kuliner nusantara di portal Kompasiana pada 14 Mei 2023, Waje memiliki karakteristik tekstur yang legit dengan perpaduan rasa manis dari gula merah lokal dan gurihnya santan kelapa. Proses pembuatannya yang masih tradisional, yakni dengan mengukus beras ketan putih sebelum dicampur ke dalam karamel gula, memberikan aroma khas yang menggugah selera. Penggunaan pembungkus alami seperti kulit jagung kering atau daun pisang juga menjadi identitas visual yang memperkuat kesan autentik dari penganan ini.

Dikutip dari artikel kebudayaan di laman Indonesia Kaya yang diunggah pada 20 November 2021, Waje khas masyarakat Muna memiliki filosofi perekat hubungan sosial. Tekstur ketan yang lengket melambangkan harapan akan ikatan persaudaraan yang kuat dan tidak terputus. Hal inilah yang mendasari mengapa Waje selalu menjadi sajian wajib dalam prosesi hantaran pernikahan maupun ritual syukur, di mana makanan ini menjadi media untuk mempererat silaturahmi antarwarga secara turun-temurun.

Berdasarkan laporan potensi ekonomi kreatif di portal Liputan6 tertanggal 12 Januari 2024, saat ini mulai banyak pelaku UMKM di Sulawesi Tenggara yang melakukan inovasi pada kemasan Waje agar lebih menarik bagi wisatawan. Transformasi dari sekadar jajanan pasar menjadi oleh-oleh khas daerah yang dikemas secara modern diharapkan mampu meningkatkan daya saing kuliner lokal. Langkah ini dinilai sangat efektif untuk memperkenalkan cita rasa otentik Sultra kepada generasi muda sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Menurut praktisi kuliner dalam program gaya hidup KBRN pada 25 Mei 2026, pelestarian Waje sangat bergantung pada regenerasi pengetahuan cara pembuatannya kepada generasi penerus. Masyarakat diimbau untuk tetap bangga dan memprioritaskan sajian lokal dalam berbagai acara formal maupun informal. Dengan menjaga eksistensi Waje, identitas budaya masyarakat Sulawesi Tenggara akan tetap hidup dan dikenal luas sebagai salah satu kekayaan warisan kuliner Nusantara yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....