Aneka Makanan Tradisional dalam Dulang Haroa
- 30 Sep 2024 07:47 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari : Muna dan Buton, dua daerah di Sulawesi Tenggara, memiliki tradisi yang dikenal dengan sebutan haroa. Ciri khas dari tradisi ini adalah penataan aneka makanan tradisional yang disusun rapi dalam sebuah talang (wadah besar).
Penataan makanan dalam talang tidak bisa dilakukan sembarangan, melainkan harus mengikuti aturan khusus agar tampak indah dan teratur. Hal ini mencerminkan nilai-nilai estetika dan kerapian yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Muna dan Buton dalam kehidupan sehari-hari, di mana segala sesuatu yang tidak rapi dianggap kurang sedap dipandang.
Beberapa makanan yang disusun dalam talang bisa dijumpai di pasar sehari-hari, namun ada juga yang hanya dibuat khusus untuk acara haroa. Makanan-makanan ini telah menjadi ikon kuliner yang khas karena selalu disajikan dalam tradisi haroa, meskipun ada banyak makanan tradisional lainnya yang tidak termasuk dalam susunan ini.
Bagi masyarakat Muna, makanan yang biasanya menghiasi dulang haroa antara lain pisang raja, lapa-lapa, nasi ketan, telur dadar, telur rebus, ayam kandara, kea kea, dodol, susuru, waji, sirikaya, dan sanggara. Sedangkan masyarakat Buton menyajikan dulang haroa dengan isi seperti ngkaowi-owi, loka yi hole, nasi, telur goreng, baruasa, cucuru, onde-onde, lapa-lapa, waje, dan manu nasu wolio.
Sebagian besar dari makanan-makanan ini terbuat dari bahan dasar yang sederhana seperti tepung beras, santan, dan gula merah. Walau begitu, rasa yang dihasilkan tidak kalah lezat dibandingkan dengan kue-kue modern, menjadikan makanan haroa tetap lestari dan dinikmati oleh masyarakat hingga kini.
Tradisi haroa bukan sekadar acara adat, namun juga simbol budaya yang mencerminkan keindahan, kerapian, dan kebersamaan masyarakat Muna dan Buton dalam merayakan momen penting dalam kehidupan mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....