Kimpul Viral, Ini Fakta Gizinya Dibanding Nasi

  • 27 Agt 2026 10:34 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari – Umbi kimpul kembali ramai diperbincangkan di media sosial sejak awal Agustus 2026, setelah sejumlah kreator konten mengolahnya menjadi berbagai hidangan modern, mulai dari mashed kimpul, seblak, lasagna, hingga sushi. Tren ini turut memunculkan berbagai klaim, seperti kimpul disebut lebih rendah kalori dari nasi dan cocok untuk penderita diabetes.

Kimpul, yang secara ilmiah dikenal sebagai Xanthosoma sagittifolium, merupakan umbi berpati dari suku talas-talasan (Araceae). Di berbagai daerah, umbi ini juga dikenal dengan sebutan talas Belitung, busil, bote, bentul, hingga mbothe. Tanaman ini bukan pangan baru, karena sudah lama dikonsumsi masyarakat Indonesia sebagai sumber karbohidrat sejak masuk ke Nusantara pada abad ke-19.

Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) 2018 dari Kementerian Kesehatan, kimpul segar mengandung 145 kilokalori, 34,2 gram karbohidrat, 1,2 gram protein, dan 1,5 gram serat per 100 gram. Kandungan kaliumnya juga cukup tinggi, mencapai 536,1 miligram per 100 gram. Sebagai perbandingan, nasi putih matang umumnya mengandung sekitar 175-180 kilokalori dan 39-40 gram karbohidrat per 100 gram, meski perbandingan ini perlu memperhitungkan perbedaan kadar air antara bahan segar dan matang.

Ahli gizi Universitas Airlangga menekankan bahwa kimpul lebih tepat diposisikan sebagai diversifikasi atau substitusi parsial sumber karbohidrat, bukan pengganti penuh nasi dalam pola makan masyarakat Indonesia. Klaim bahwa kimpul otomatis lebih rendah kalori atau lebih aman untuk penderita diabetes juga belum didukung bukti yang cukup kuat, mengingat cara pengolahan, porsi, dan bahan tambahan sangat memengaruhi nilai gizi akhir suatu hidangan.

Satu hal penting yang perlu diperhatikan saat mengolah kimpul adalah kandungan kalsium oksalatnya, senyawa alami yang dapat menimbulkan rasa gatal atau iritasi di mulut dan tenggorokan jika umbi tidak dimasak dengan matang sempurna. Beberapa penelitian mencatat perebusan hingga 40-80 menit dapat menurunkan kadar oksalat secara signifikan, dengan air rebusan sebaiknya dibuang agar tidak dikonsumsi kembali sebagai kaldu.

Bagi masyarakat yang ingin mencoba kimpul sebagai variasi menu sehari-hari, dianjurkan memasaknya dengan cara direbus atau dikukus tanpa tambahan minyak, gula, atau santan berlebih, serta tetap melengkapi menu dengan sumber protein dan sayuran agar kebutuhan gizi tetap seimbang. Konsumsi kimpul mentah maupun setengah matang tidak dianjurkan karena berisiko menimbulkan iritasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....