Dokter Bagikan Kiat Kurangi Risiko ISPA pada Musim Kemarau
- 15 Agt 2026 15:20 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp, membagikan sejumlah kiat untuk mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama selama musim kemarau.
Nastiti mengatakan cuaca panas dan kering dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan, terlebih ketika tubuh kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi. Kondisi tersebut dapat membuat selaput lendir atau mukosa di saluran pernapasan menjadi kering.
“Selaput lendir di saluran napas anak itu berfungsi untuk memfilter atau menyaring bahan-bahan yang masuk ke dalam saluran napas, termasuk bakteri, virus, kemudian juga polutan. Sehingga kalau fungsi dari selaput lendir ini berkurang, maka tentu akan meningkatkan risiko terjadinya ISPA,” kata Nastiti, dikutip dari Antara, Sabtu (15/8/2026).
Menurut dokter yang berpraktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tersebut, rendahnya curah hujan selama musim kemarau membuat debu dan polutan lebih mudah beterbangan di udara. Paparan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam, terutama pada awal musim kemarau, juga dapat memengaruhi daya tahan tubuh anak.
“Seringkali di awal-awal musim kemarau itu kan terjadi perbedaan suhu yang besar ya. Perbedaan panas di siang hari dan dingin di malam hari yang ekstrem ini juga bisa memengaruhi daya tahan tubuh anak sehingga mudah terkena ISPA,” ujarnya.
Untuk mengurangi paparan polutan, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara sedang kering, berdebu, atau memiliki kualitas udara yang buruk. Masyarakat juga dapat memantau indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) melalui aplikasi yang tersedia.
Jika harus beraktivitas di luar ketika kualitas udara kurang baik, penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah perlindungan. Selain itu, perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan menggunakan sabun serta menerapkan etika batuk, perlu diterapkan untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
Nastiti juga mengingatkan pentingnya memenuhi kebutuhan cairan tubuh selama musim kemarau. Hidrasi yang cukup membantu menjaga selaput lendir saluran pernapasan tetap lembap sehingga dapat menjalankan fungsinya dalam melindungi saluran napas.
“Yang paling penting memang minum yang cukup. Hidrasi yang cukup, jangan sampai tubuh dalam kondisi dehidrasi,” ujarnya.
Daya tahan tubuh juga perlu dijaga dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang terdiri atas protein, karbohidrat, sayuran, dan buah-buahan. Asupan yang mengandung vitamin C dan vitamin A dapat mendukung pemeliharaan sel dan selaput lendir saluran pernapasan.
Masyarakat juga diminta menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menghindari asap rokok, asap dari aktivitas memasak, pembakaran sampah, serta sumber polusi lainnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sejumlah risiko kesehatan selama musim kemarau, termasuk ISPA. Minimnya tutupan awan pada musim kemarau dapat memicu peningkatan suhu udara, sementara debu dan potensi asap kebakaran dapat menurunkan kualitas udara serta meningkatkan paparan terhadap gangguan pernapasan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....