Mengenal Dunia Anestesi, dari Persiapan hingga Pemulihan Pasien
- 17 Mei 2026 12:20 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Dunia anestesi masih sering dipahami masyarakat hanya sebagai proses pembiusan sebelum operasi. Padahal, peran dokter anestesi jauh lebih luas dan menjadi bagian penting dalam keselamatan pasien selama tindakan medis berlangsung.
Dokter Spesialis Anestesi RSUD Bahteramas Kendari, dr. Fitriani Asrul, Sp.An-TI, CEMHP menjelaskan, anestesi mencakup proses persiapan pasien sebelum operasi, pemantauan kondisi tubuh selama tindakan berlangsung, hingga perawatan setelah operasi selesai dilakukan.
“Banyak yang mengira dokter anestesi hanya datang untuk membius pasien, padahal kami memantau kondisi pasien mulai dari sebelum operasi sampai pasien sadar dan stabil kembali,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya di RSUD Bahteramas Kendari, Sabtu 16 Mei 2026.
Menurut dr. Fitriani, sebelum operasi pasien akan menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Pemeriksaan tersebut meliputi tekanan darah, riwayat penyakit, alergi obat, hingga obat-obatan yang sedang dikonsumsi pasien.
Fitriani mengatakan, informasi tersebut sangat penting untuk menentukan jenis anestesi yang paling aman bagi setiap pasien. Sebab, kondisi seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan dapat memengaruhi proses anestesi.
Selain itu, pasien juga akan diberikan edukasi terkait aturan puasa sebelum operasi. dr. Fitriani menjelaskan bahwa aturan puasa tidak bisa disamaratakan karena berbeda pada setiap jenis operasi, mulai dari operasi elektif, operasi darurat (emergency), hingga prosedur dengan pendekatan Enhanced Recovery After Surgery (ERACS).
“Untuk operasi elektif biasanya pasien mengikuti aturan puasa tertentu sesuai jadwal operasi dibutuhkan sekitar 6-8 jam. Sementara pada operasi emergency tentu penanganannya berbeda karena kondisi pasien harus segera ditangani. Sedangkan pada ERACS, pasien justru dipersiapkan agar tidak terlalu lama puasa demi mempercepat pemulihan,” jelasnya.
Fitriani menambahkan, edukasi puasa sebelum operasi harus diberikan dengan benar karena puasa yang tidak cukup dapat membahayakan pasien saat proses anestesi berlangsung. Jika lambung masih berisi makanan atau minuman saat pasien dibius, terdapat risiko aspirasi, yaitu isi lambung masuk ke saluran pernapasan dan paru-paru yang dapat menyebabkan komplikasi serius.
“Ini yang sering tidak dipahami masyarakat. Kalau pasien tidak puasa sesuai aturan, risiko saat anestesi bisa meningkat dan membahayakan keselamatan pasien di ruang operasi,” tegas dr. Fitriani.
Meski demikian, dirinya juga mengingatkan bahwa puasa terlalu lama bukan berarti lebih baik. Pasien bisa mengalami dehidrasi, lemas, hingga penurunan gula darah sebelum operasi dilakukan. Karena itu, aturan puasa kini lebih disesuaikan dengan kondisi pasien, usia, serta jenis tindakan medis yang dijalani.
Selama operasi berlangsung, dokter anestesi bertugas memantau tekanan darah, denyut jantung, pernapasan, hingga kadar oksigen pasien setiap saat. Setelah operasi selesai, pasien juga tetap dipantau di ruang pemulihan hingga kondisi benar-benar stabil.
dr. Fitriani berharap masyarakat dapat lebih memahami pentingnya peran anestesi dalam dunia medis. Menurutnya, pengetahuan yang baik tentang anestesi dapat membantu mengurangi rasa takut pasien sebelum menjalani operasi.
“Yang terpenting pasien harus jujur terkait kondisi kesehatannya dan mengikuti arahan tenaga medis agar operasi berjalan aman dan lancar,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....