Tidur sebagai Mekanisme Bertahan saat Tubuh Kelelahan
- 23 Apr 2026 21:37 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Tidur tidak selalu sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga dapat menjadi cara tubuh merespons tekanan psikologis. Dalam kondisi tertentu, seseorang cenderung lebih banyak tidur sebagai bentuk perlindungan diri dari stres.
Respons ini berkaitan dengan mekanisme tubuh saat menghadapi situasi yang dirasa berat atau mengancam. Selain respons melawan atau melarikan diri, tubuh juga dapat masuk ke kondisi diam atau freeze response.
Dalam pendekatan neuropsikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan aktivasi sistem saraf yang membuat tubuh melambat dan menarik diri. Reaksi tersebut membantu individu menghemat energi ketika menghadapi tekanan yang sulit diatasi.
Salah satu bentuk yang tampak adalah keinginan untuk tidur lebih lama atau menarik diri dari aktivitas. Tidur dalam konteks ini menjadi cara tubuh untuk berhenti sejenak dari beban yang dirasakan.
Meski demikian, mekanisme ini bukan berarti solusi jangka panjang. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan aktivitas dan kesehatan mental seseorang.
Menurut psikiater Viktor Frankl dalam bukunya Man's Search for Meaning, manusia memiliki kemampuan untuk menemukan makna bahkan dalam kondisi sulit. Kesadaran ini menjadi penting agar individu tidak terjebak dalam respons pasif, tetapi tetap berupaya bangkit secara perlahan.
Mengenali bahwa tubuh sedang berada dalam kondisi bertahan dapat menjadi langkah awal untuk memahami diri sendiri. Dari sana, individu dapat mulai mencari cara yang lebih sehat untuk mengelola tekanan.
Dengan demikian, tidur sebagai respons terhadap stres perlu dipahami secara bijak. Keseimbangan antara istirahat dan upaya aktif menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental secara menyeluruh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....