Self-Diagnose, Tren Berbahaya di Kalangan Anak Muda

  • 25 Jan 2026 10:52 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari – Akses informasi kesehatan yang semakin mudah di internet dan media sosial membawa dampak ganda bagi generasi muda. Di satu sisi, anak muda menjadi lebih sadar akan pentingnya kesehatan. Namun di sisi lain, muncul tren self-diagnose atau mendiagnosis kondisi kesehatan sendiri tanpa pemeriksaan tenaga medis.

Fenomena ini kerap terlihat ketika seseorang mengaitkan gejala yang dialami dengan informasi yang ditemukan secara daring, lalu mengambil keputusan pengobatan atau perubahan gaya hidup secara mandiri, tanpa konsultasi profesional.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Internet Research menyoroti meningkatnya kecenderungan generasi muda mencari informasi medis melalui mesin pencari dan media sosial sebelum berkonsultasi dengan dokter. Studi tersebut menemukan bahwa sebagian responden mengaku pernah mengubah atau menghentikan pengobatan setelah membaca informasi kesehatan dari sumber non-medis.

Sementara itu, laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa misinformasi kesehatan di ruang digital dapat memengaruhi pengambilan keputusan individu, terutama pada kelompok usia muda yang aktif mengakses media sosial.

Praktik self-diagnose dinilai berisiko karena gejala yang tampak ringan dapat berkaitan dengan kondisi medis yang lebih serius. Kesalahan dalam menafsirkan informasi dapat menyebabkan keterlambatan penanganan, penggunaan obat yang tidak tepat, hingga potensi efek samping yang membahayakan. Selain dampak fisik, kebiasaan ini juga dapat memicu kecemasan berlebihan. Paparan informasi medis tanpa pendampingan ahli berpotensi membuat seseorang merasa takut atau stres terhadap kondisi yang sebenarnya tidak dialami.

Tenaga kesehatan dan pendidik mendorong beberapa langkah pencegahan agar tren self-diagnose tidak semakin meluas, antara lain:

· membiasakan konsultasi dengan dokter atau tenaga medis saat mengalami keluhan kesehatan

· memverifikasi informasi kesehatan dari sumber resmi, seperti rumah sakit, universitas, atau lembaga kesehatan

· meningkatkan literasi digital dan kesehatan di sekolah maupun komunitas

· mendorong media dan pembuat konten untuk mencantumkan sumber yang jelas dan akurat

Kesadaran bahwa setiap kondisi kesehatan bersifat unik menjadi kunci untuk mengurangi praktik diagnosis mandiri. Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan tenaga medis, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan informasi digital secara bijak tanpa mengabaikan peran penting pemeriksaan profesional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....