Cegah Anak-anak Kita dari Brainrot Effect

  • 25 Jan 2026 10:21 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Meningkatnya penggunaan gawai dan media sosial di kalangan anak-anak dan remaja memunculkan kekhawatiran baru terkait kualitas perhatian dan kesehatan mental. Salah satu istilah yang belakangan sering digunakan untuk menggambarkan dampak paparan konten digital berlebihan adalah brainrot effect. Fenomena ini tidak hanya menjadi perbincangan di ruang digital, tetapi juga mulai mendapat perhatian dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan.

Sebuah penelitian dari University of Oxford yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behaviour menyoroti hubungan antara durasi penggunaan layar dengan tingkat kesejahteraan remaja. Studi tersebut menemukan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan dapat berkorelasi dengan meningkatnya risiko kelelahan mental dan menurunnya kepuasan belajar.

Di Indonesia, sejumlah sekolah di beberapa daerah mulai melaporkan perubahan perilaku siswa, seperti kesulitan berkonsentrasi di kelas, menurunnya minat membaca buku cetak, serta kecenderungan memeriksa ponsel secara berulang. kondisi ini berpotensi berdampak pada kemampuan belajar, pengelolaan emosi, serta kualitas interaksi sosial. Temuan ini menjadi dasar bagi beberapa institusi pendidikan untuk menerapkan kebijakan pembatasan gawai selama jam belajar.

Pakar pendidikan dan kesehatan mental mendorong peran aktif keluarga dan sekolah dalam membentuk kebiasaan digital yang sehat. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:

· menetapkan batas waktu penggunaan gawai harian sesuai usia anak

· menyediakan jadwal kegiatan tanpa layar, seperti bermain di luar rumah atau membaca bersama

· mengajak anak berdiskusi tentang konten yang mereka konsumsi di media sosial

· memberi contoh penggunaan teknologi yang seimbang dari orang tua dan guru

Pencegahan brainrot effect dinilai akan lebih efektif jika dilakukan secara kolaboratif. Sekolah dapat memperkuat literasi digital melalui kurikulum, sementara keluarga berperan dalam menciptakan lingkungan rumah yang mendukung aktivitas non-digital. Dengan pendekatan yang seimbang, anak-anak diharapkan tetap dapat memanfaatkan teknologi untuk belajar dan berkreasi, tanpa mengabaikan kesehatan mental dan kemampuan berpikir kritis.

Di era serba digital, tantangan terbesar bukan sekadar membatasi akses teknologi, tetapi membimbing anak-anak agar mampu menggunakannya secara bijak. Kesadaran sejak dini menjadi kunci untuk membangun generasi yang cakap digital, sehat secara mental, dan tetap memiliki daya fokus yang kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....