Mengenal 'Brainrot', Bahaya Sejak Dini
- 25 Jan 2026 10:13 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Istilah brainrot belakangan semakin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan anak muda dan pengguna aktif platform digital. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa pikirannya “lelah” atau sulit fokus akibat terlalu lama terpapar konten digital yang cepat, berulang, dan bersifat hiburan instan. Meski bukan istilah medis resmi, brainrot menjadi fenomena sosial yang menarik perhatian banyak peneliti dan praktisi kesehatan mental karena berkaitan dengan pola konsumsi informasi di era digital.
Secara umum, brainrot merujuk pada penurunan kualitas perhatian, konsentrasi, dan motivasi akibat paparan konten digital yang berlebihan. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat membuat seseorang merasa mudah bosan, sulit fokus belajar atau bekerja, serta cenderung mencari stimulasi baru secara terus-menerus.
| Baca juga: Tujuh Makanan yang Harus Dihindari saat Diet |
Sejumlah penelitian internasional telah menyoroti dampak penggunaan media digital berlebihan terhadap fungsi kognitif. Studi yang dipublikasikan oleh American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa paparan layar yang intens dan multitasking digital dapat memengaruhi kemampuan perhatian dan memori kerja, terutama pada remaja dan dewasa muda.
Sementara itu, laporan dari World Health Organization (WHO) juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan luring, karena pola hidup yang terlalu bergantung pada gawai berpotensi meningkatkan risiko gangguan tidur, kelelahan mental, dan stres.
Di Indonesia, sejumlah akademisi dari perguruan tinggi mulai mengkaji hubungan antara durasi penggunaan media sosial dengan tingkat fokus belajar mahasiswa dan pelajar. Hasil awal menunjukkan adanya korelasi antara waktu layar yang tinggi dengan menurunnya konsentrasi dalam kegiatan akademik.
Dalam keseharian, brainrot sering terlihat pada kebiasaan scrolling tanpa tujuan selama berjam-jam, kesulitan melepaskan gawai meski sedang belajar atau bekerja, hingga perasaan gelisah ketika tidak mengakses media sosial. Ini benar-benar terjadi ditengah-tengah kita. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang cukup rentan, mengingat masa perkembangan mereka sangat dipengaruhi oleh pola stimulasi dan kebiasaan belajar. Jika brainrot ini tidak disadari sejak awal, maka bahaya terhadap fokus dan perkembangan otak yang lambat akan terjadi dengan cepat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....