Laut yang Menghubungkan Nusantara
- 17 Sep 2026 08:14 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Hari Perhubungan Nasional yang diperingati setiap 17 September menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang konektivitas Indonesia. Di negeri kepulauan seperti Indonesia, sejarah perhubungan tidak hanya lahir dari jalan raya, rel kereta, bandara, atau pelabuhan modern, tetapi juga dari laut yang sejak dahulu menjadi jalur penghubung antarpulau, antarmasyarakat, dan antarkebudayaan. Peringatan tahun ini mengangkat tema “Terhubung, Melayani, Bergerak untuk Negeri”, yang mengingatkan kembali pentingnya konektivitas bagi kehidupan masyarakat.
Jauh sebelum kapal bermesin memenuhi pelabuhan, masyarakat Nusantara telah mengembangkan pengetahuan untuk membaca arah angin, gelombang, arus, musim, hingga tanda-tanda alam. Laut tidak hanya dipandang sebagai ruang yang harus dilalui, tetapi juga lingkungan yang perlu dipahami agar perjalanan dapat berlangsung dengan selamat. Pengetahuan tersebut diwariskan antargenerasi melalui pengalaman melaut dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat bahari.
Salah satu warisan yang paling mudah dilihat adalah teknologi pembuatan perahu tradisional. Masyarakat Konjo di Bontobahari, Sulawesi Selatan, misalnya, memiliki tradisi pembuatan perahu yang menjadi bagian dari identitas budaya mereka. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya menunjukkan bahwa tradisi pembuatan perahu di Bontobahari merupakan bentuk local genius yang mencerminkan pengetahuan dan semangat budaya maritim masyarakat pesisir.
Kearifan maritim juga terlihat dari cara berbagai komunitas membangun jaringan pelayaran antarpulau. Orang Buton, Bugis-Makassar, Mandar, Bajo, dan masyarakat bahari lainnya memiliki tradisi pelayaran yang membuat laut menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok. Dalam kehidupan masyarakat tersebut, kemampuan membaca laut dan menguasai jalur pelayaran menjadi pengetahuan penting yang memungkinkan perjalanan sekaligus pertukaran barang dan budaya.
Bagi masyarakat maritim masa lalu, kemampuan berpindah dari satu pulau ke pulau lain bukan sekadar persoalan transportasi. Pelayaran juga membawa bahasa, makanan, pengetahuan, barang dagangan, dan kebiasaan dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Laut yang terlihat sebagai pemisah di peta justru menjadi penghubung dalam kehidupan masyarakat Nusantara.
Kini teknologi transportasi telah berubah jauh, dari perahu layar dan pengetahuan membaca angin menjadi kapal bermesin, sistem navigasi satelit, pelabuhan modern, serta jaringan transportasi yang semakin terintegrasi. Namun, semangat yang mendasarinya tetap sama, yakni bagaimana manusia bergerak, bertemu, berdagang, dan saling menghubungkan di wilayah kepulauan yang luas.
Hari Perhubungan Nasional akhirnya dapat menjadi momentum untuk melihat kembali bahwa konektivitas Indonesia tidak dimulai dari teknologi modern. Ia memiliki akar panjang dalam kearifan masyarakat yang menjadikan laut sebagai ruang hidup sekaligus jalan penghubung Nusantara. Di tengah kemajuan transportasi, pengetahuan dan tradisi maritim tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas Indonesia sebagai bangsa kepulauan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....