Pekan Literasi AI Pemilu Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UHO

  • 10 Sep 2026 12:49 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UHO akan menggelar kegiatan pekan literasi AI Pemilu dengan tema “Pemilih Pemula di Era AI: Tantangan Komunikasi Politik Digital Menjelang Pemilu 2029”. Kegiatan pekan literasi AI Pemilu ini akan dilaksanakan di 8 sekolah tingkat menengah atas yang ada di Kota Kendari pada tanggal 17-18 September 2026. Sekolah tersebut, yakni SMAN 1 Kendari, SMAN 7 Kendari, SMAN 8 Kendari, SMAN 9 Kendari, SMAN 10 Kendari, SMKN 1 Kendari, SMKN 3 Kendari dan SMKN 4 Kendari.

Kegiatan ini, diinisasi sebagai bentuk mitigasi terhadap ancaman AI menjelang Pemilu 2029 terutama bagi pemilih pemula yang saat ini berstatus sebagai pelajar di tingkat menengah atas. Hal tersebut dilandasi dari terus meningkatnya intensitas pemanfaatan AI, dimana pada pengalaman pemilu di berbagai negara seperti Rumania dan Malta. AI justru menjadi ancaman dalam pelaksanaan Pemilu. AI menjadi alat produksi dari konten yang mengarah pada disorder information (gangguan informasi).

Menurut Wardle, disorder information meliputi disinformasi, misinformasi dan malinfomasi. Disinformasi merupakan informasi yang sengaja diproduksi dan disebarkan untuk menyesatkan, memengaruhi opini publik, atau mencapai tujuan tertentu, baik politik maupun ekonomi. Misinformasi merujuk pada informasi yang keliru, tetapi disebarkan tanpa niat untuk merugikan pihak lain. Sementara itu, malinformasi dimaknai sebagai informasi yang pada dasarnya benar, tetapi digunakan di luar konteks atau disebarkan dengan tujuan merugikan pihak tertentu.

Adapun distribusi informasi tersebut dilakukan melalui media sosial. Berdasarkan APJII, generasi muda, termasuk pemilih pemula, jumlahnya mendominasi dalam penggunakan media sosial untuk mencari infomasi, termasuk infomasi politik. Padahal, media sosial saat ini tengah memanfaatkan AI untuk memberikan pengalaman yang dipersonalisasi, sehingga informasi yang diterima oleh pengguna bersifat filter buble dan echo chamber. Filter buble, menurut pakar internet Eli Pariser, muncul akibat personalisasi konten daring dan diyakini dapat mengisolasi pengguna internet secara intelektual serta mengurangi keragaman informasi yang mereka terima. Sementara, echo chamber mengacu pada interaksi antarindividu yang memiliki pandangan atau opini seragam, sehingga terjadi penguatan keyakinan dalam lingkaran tertutup, dan sudut pandang alternatif dianggap asing atau bahkan salah.

Sementara, pemilih pemula di Kota Kendari diproyeksi akan terus meningkat pada Pemilu 2029. Berdasarkan hasil rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan II Tahun 2026, yang dilakukan KPU Kota Kendari, telah bertambah sebesar 350 pemilih pemula. Sehingga, menurut Irmawanti selaku dosen pengampu mata kuliah komunikasi politik, mendorong mahasiswa untuk menjalankan perannya sebagai agent of control. Melakukan aktivitas mitigasi terhadap kondisi tersebut, sehingga pemilih pemula menjadi kritis dalam mencari informasi politik dan tidak terjebak dalam kesadaran semu karena jebakan dari filter buble dan echo chamber. (Irmawanti, S.I.Kom., M.I.Kom.)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....