Bantu Penderita Disleksia Membaca, Mahasiswa UHO Ciptakan Kacamata Pintar

  • 09 Sep 2026 22:39 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Lima mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari menciptakan inovasi kacamata pintar berbasis Augmented Reality (AR) bernama LEXILIGHT. Perangkat asistif ini dirancang untuk membantu individu dengan disleksia membaca tulisan secara lebih terarah dan mandiri.

Inovasi tersebut berhasil membawa tim mahasiswa UHO memperoleh pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Ketua Tim Pengembang LEXILIGHT, Muhammad Rizky Yamin, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap penderita disleksia yang kerap menghadapi hambatan dalam mengenali bentuk kata, membedakan huruf, serta mempertahankan fokus pada baris bacaan.

“Dukungan membaca untuk penderita disleksia selama ini sebagian besar masih terbatas pada lingkungan pembelajaran yang terstruktur. Lewat LEXILIGHT, kami ingin menghadirkan akses membaca yang lebih fleksibel di mana saja,” ujar Rizky di Kendari.

Secara teknis, LEXILIGHT bekerja dengan menangkap tulisan di sekitar pengguna melalui kamera yang terintegrasi pada perangkat. Teks tersebut kemudian dikonversi menjadi teks digital menggunakan teknologi Optical Character Recognition (OCR).

Selanjutnya, sistem Natural Language Processing (NLP) dan Lexical Simplification memproses kata-kata yang kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana tanpa menghilangkan makna utama kalimat. Hasil pemrosesan kemudian diproyeksikan melalui micro-display berbasis AR, yang dilengkapi fitur Line-Focusing untuk membantu pengguna mempertahankan fokus pada baris bacaan.

Dosen Pembimbing Tim, Rizal Adi Saputra, S.T., M.Kom., mengapresiasi kerja keras mahasiswa dalam mengembangkan teknologi asistif yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, LEXILIGHT lahir dari kepekaan mahasiswa terhadap kebutuhan individu dengan disleksia. Pengembangan perangkat tersebut juga terus diarahkan agar tidak hanya unggul dari sisi teknologi, tetapi dapat diaplikasikan dan diuji secara empiris.

“Inovasi LEXILIGHT lahir dari kepekaan mahasiswa terhadap kebutuhan nyata masyarakat, khususnya anak-anak maupun individu dengan disleksia. Sebagai pembimbing, kami terus mendorong agar riset ini tidak hanya unggul secara teknis dalam integrasi OCR, NLP, dan AR, tetapi juga betul-betul aplikatif dan siap diuji secara empiris di lapangan,” ungkap Rizal.

Tim pengembang LEXILIGHT terdiri dari Muhammad Rizky Yamin, Anggun Dian Pertiwi, Moch. Rayzhan Absar Alwanie, Kahar Munajat, dan Nadia Dwi Maharani. Saat ini, tim masih memfokuskan pengembangan prototipe menuju tahap pengujian fungsi.

Rizky mengatakan pendanaan dari Kemdiktisaintek menjadi pijakan awal bagi tim untuk menyelesaikan prototipe sekaligus melanjutkan evaluasi terhadap efektivitas perangkat bagi pengguna dengan disleksia.

“Pendanaan ini merupakan motivasi besar bagi kami. Kami berharap LEXILIGHT tidak berhenti sebatas prototipe, melainkan dapat terus disempurnakan hingga benar-benar memberi manfaat nyata bagi pendidikan inklusif di Indonesia,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....