Literasi Informasi Digital Generasi Muda di Desa Lambusa, Masih Menghadapi Hoaks
- 07 Sep 2026 15:43 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari — Penggunaan internet dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda di pedesaan. Namun, kemampuan dalam memilah, memverifikasi, dan menilai kebenaran informasi digital masih menjadi tantangan.
Kondisi tersebut terlihat dari pengalaman Silfi, salah satu generasi muda di Dusun 3, Desa Lambusa, yang lebih banyak memanfaatkan media sosial untuk memperoleh informasi yang sedang tren maupun viral.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada Minggu, 6 September 2026, Silfi mengatakan informasi yang paling sering dicari melalui internet berkaitan dengan kebutuhan pribadi, khususnya produk makeup. Selain itu, ia juga mengikuti informasi lokal melalui akun Kendari Info dan Sultra Hitz.
Dari berbagai platform digital yang tersedia, TikTok menjadi aplikasi yang paling sering digunakan Silfi untuk memperoleh informasi. Menurutnya, platform tersebut dipilih karena berbagai informasi yang sedang tren dan viral lebih banyak muncul di TikTok.
Ketika ingin mengetahui informasi mengenai desa, pendidikan, pekerjaan, maupun isu yang sedang ramai diperbincangkan, Silfi juga lebih memilih mencari informasi melalui TikTok.
Dalam menentukan apakah sebuah informasi dapat dipercaya, Silfi mengaku lebih banyak melihat akun yang memposting informasi tersebut. Namun, ia tidak terlalu memperhatikan siapa pembuat atau sumber awal informasi.
Silfi juga mengaku belum terbiasa membandingkan informasi yang diperoleh dengan sumber lain, seperti Google, akun resmi pemerintah, media berita, maupun bertanya kepada orang lain.
“Saya hanya melihat informasi atau beritanya saja, tidak terlalu perhatikan,” ujar Silfi saat diwawancarai mengenai pengalamannya menerima informasi yang salah atau meragukan.
Sebelum membagikan informasi, Silfi biasanya hanya melihat akun yang memposting informasi tersebut. Keputusan untuk membagikan informasi juga dipengaruhi oleh apakah informasi tersebut sedang viral atau tidak.
Dalam kehidupan sehari-hari, informasi dari internet dan media sosial bagi Silfi lebih banyak dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang. Sementara keterlibatannya dalam membuat atau membagikan konten mengenai desa, kegiatan masyarakat, pendidikan, usaha, maupun persoalan lokal masih terbatas.
“Informasi mengenai kegiatan masyarakat seperti gotong royong masih lebih banyak diperoleh melalui komunikasi dari mulut ke mulut,” lanjutnya. Ia juga mengaku masih kurang mengetahui berbagai persoalan yang terjadi di desa.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa media digital belum sepenuhnya dimanfaatkan generasi muda sebagai sarana untuk mengetahui sekaligus terlibat dalam berbagai persoalan di lingkungan pedesaan.
Salah satu kesulitan yang dirasakan Silfi dalam menggunakan informasi digital adalah membedakan informasi asli dengan informasi sintetis maupun hoaks.
Meski demikian, ia telah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, sebagai salah satu alat untuk belajar. Silfi mengatakan informasi yang diperoleh melalui ChatGPT tetap diperiksa kembali.
Pengalaman Silfi menunjukkan bahwa tingginya penggunaan media digital belum selalu diikuti dengan kemampuan literasi informasi yang memadai. Kemampuan memverifikasi sumber, membandingkan informasi, serta mengenali informasi yang benar menjadi keterampilan penting bagi generasi muda di pedesaan.
Dengan meningkatnya kemampuan literasi informasi digital, generasi muda di Desa Lambusa diharapkan tidak hanya menggunakan internet untuk mengikuti tren dan mengisi waktu luang, tetapi juga mampu memanfaatkan informasi digital untuk mendukung pendidikan, mengetahui berbagai persoalan desa, serta berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
(Muh. Tasbir – UHO)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....