Proyek Raksasa yang Mengubah Wajah Laut

  • 10 Agt 2026 08:16 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari – Laut selama ini dianggap sebagai batas yang memisahkan daratan dan menjadi bagian alami dari bentang Bumi. Namun, perkembangan teknologi membuat manusia mampu membangun pulau, memperluas garis pantai, hingga menciptakan sistem raksasa untuk menahan datangnya air laut.

Salah satu contoh paling mencolok terlihat di Dubai, Uni Emirat Arab, melalui Palm Jumeirah. Pulau berbentuk pohon palem tersebut dibangun menggunakan material hasil pengerukan dasar laut dan dilindungi pemecah gelombang dari batu, sehingga menciptakan daratan baru sekaligus memperpanjang garis pantai Dubai. Dari citra satelit NASA, perubahan kawasan tersebut terlihat jelas dalam rentang waktu pembangunan sejak awal 2000-an.

Di belahan dunia lain, Belanda mengambil pendekatan berbeda melalui Delta Works. Alih-alih membuat daratan untuk hunian dan pariwisata, negeri yang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut itu membangun rangkaian bendungan, tanggul, pintu air, dan penghalang gelombang badai untuk melindungi daratan dari ancaman banjir. Sistem tersebut mencakup 13 bagian utama dan menjadi salah satu proyek pengelolaan air paling besar yang pernah dibangun manusia.

Perubahan bentang pesisir melalui reklamasi dan pembangunan struktur laut memang memberikan ruang baru bagi kota-kota yang kekurangan lahan, tetapi juga mengubah arus, sedimentasi, habitat, dan ekosistem pesisir. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Marine Science menunjukkan bahwa pembangunan kawasan pesisir berskala besar dapat memberikan tekanan terhadap ekosistem laut, sehingga perencanaan proyek perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, bukan hanya manfaat ekonominya.

Dari pulau buatan di Dubai hingga benteng air di Belanda, proyek-proyek tersebut menunjukkan betapa jauh manusia mampu beradaptasi sekaligus memodifikasi lingkungan. Namun, semakin besar kemampuan untuk mengubah laut, semakin besar pula tanggung jawab untuk memahami bahwa laut bukan ruang kosong yang dapat dibentuk sesuka hati, melainkan ekosistem yang telah memiliki kehidupan dan keseimbangannya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....