Menetapkan Batasan Gadget untuk Anak di Era Digital

  • 15 Sep 2025 15:11 WIB
  •  Kendari

KBRN, Kendari : Mengapa literasi screen time menjadi urgensi baru bagi keluarga Indonesia

Di tengah kemajuan teknologi, anak-anak kini tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan layar. Dari belajar daring hingga hiburan digital, gadget menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Namun, tanpa batasan yang jelas, penggunaan gadget bisa berdampak negatif pada tumbuh kembang anak—baik secara fisik, emosional, maupun sosial.

Dampak Screen Time Menurut Studi Terkini

1. Gangguan Perkembangan Sensorik dan Emosi

Studi dari JAMA Pediatrics (2020) menunjukkan bahwa screen time satu jam per hari pada balita dapat meningkatkan risiko gangguan perilaku sensorik, seperti kesulitan merespons rangsangan suara atau cahaya. Bahkan, anak usia 3,5 tahun yang terpapar gadget berlebihan cenderung menunjukkan ledakan emosi saat berusia 4,5 tahun.

2. Keterlambatan Kognitif dan Interaksi Sosial

Penelitian oleh Putri et al. dalam Jurnal Ilmiah PTK PNF (2021) menemukan bahwa screen time berlebihan pada anak usia 0–5 tahun berdampak pada penurunan kualitas interaksi anak dan orang tua, serta keterlambatan perkembangan kognitif.

3. Gangguan Tidur dan Pola Aktivitas

Studi oleh Zhu et al. (2020) mengaitkan screen time malam hari dengan gangguan tidur pada anak, yang berdampak pada konsentrasi dan perilaku di siang hari.

Strategi Praktis untuk Keluarga

1. Tetapkan Waktu Layar yang Terukur

Menurut AAP dan WHO (2020), ada batasan sehat yang direkomendasikan:

- Anak usia di bawah 2 tahun: sebaiknya tidak terpapar layar sama sekali, kecuali untuk video call dengan keluarga.

- Anak usia 2–5 tahun: maksimal 1 jam per hari, dengan konten edukatif dan pendampingan aktif dari orang tua.

Selain durasi, kualitas konten dan konteks penggunaan juga menjadi penentu dampak screen time terhadap anak.

2. Ciptakan Zona Bebas Gadget

Terapkan waktu dan tempat khusus tanpa gadget, seperti saat makan bersama, menjelang tidur, atau saat beribadah.

3. Libatkan Anak dalam Memilih Konten

Biarkan anak ikut memilih aplikasi atau video yang akan ditonton, dengan bimbingan orang tua. Ini membangun rasa tanggung jawab dan pemahaman nilai.

4. Jadikan Gadget sebagai Alat Interaksi, Bukan Pengganti

Orang tua sebaiknya mendampingi anak saat menggunakan gadget, bukan sekadar mengawasi dari jauh. Tanyakan apa yang mereka tonton, dan diskusikan bersama.

5. Edukasi Digital Sejak Dini

Ajarkan anak tentang privasi, etika digital, dan cara bersikap sopan di dunia maya. Gunakan bahasa sederhana dan contoh nyata.

Di tengah kemajuan teknologi, peran orang tua, pendidik, dan masyarakat menjadi semakin penting dalam membentuk kebiasaan digital anak. Gadget bukan musuh, melainkan alat yang perlu dikenali, diarahkan, dan dimanfaatkan secara bijak. Dengan batasan yang sehat, pendampingan aktif, dan edukasi yang konsisten, kita bisa menciptakan lingkungan digital yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh—baik secara fisik, emosional, maupun sosial.

Membangun literasi digital bukan hanya soal mengatur waktu layar, tapi juga tentang membentuk karakter, nilai, dan cara anak berinteraksi dengan dunia. Dan itu dimulai dari rumah, sekolah, dan ruang publik yang peduli.

(Elhaiza Gq Situmeang)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....