Kemenhut Sosialisasi Layanan Digital Wisata Alam di Taman Nasional Wakatobi
- 10 Jul 2026 16:40 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Republik Indonesia (RI) melakukan sosialisasi pelayanan berbasis digital pada Balai Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) di Hotel Wisata, Kamis 9 Juli 2026.
Sosialisasi tersebut diikuti oleh Forum Pelaku Usaha Wisata Alam yang terdiri dari unsur pelaku usaha wisata, mulai dari pramuwisata, operator selam (dive operator), pemandu wisata, pelaku usaha hotel dan restoran, hingga unsur pemerintah. Kegiatan itu berlangsung di Hotel Wisata Wakatobi, Kamis 9 Juli 2026.
Kepala Subdirektorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi (PJLKK) KSDAE Kemenhut RI, Johan Setiawan menjelaskan, Menteri Kehutanan telah meluncurkan sebuah aplikasi super yang diberi nama Ayo ke Taman Nasional.
"Di situ merupakan aplikasi super yang merupakan wadah atau platform dari pembelian tiket seluruh Taman Nasional dan Taman Wisata Alam," katanya.
Johan Setiawan menyebutkan, terdapat 54 Taman Nasional dan 145 Taman Wisata Alam di Indonesia yang secara simultan akan didorong untuk menerapkan layanan digital tersebut.
"Dan hari ini Wakatobi komit untuk melakukan itu, menginstall dan sudah bisa dijalankan. Aplikasi ini adalah bentuk komitmen pemerintah untuk melakukan digitalisasi layanan publik. Memudahkan, jadi tour operator itu sudah bisa jauh-jauh hari, tidak perlu harus datang lagi setelah sampai ke pelabuhan, jauh kalau harus ke kantor, cukup ini saja," ujarnya.
Dijelaskan Johan Setiawan, tiket nantinya akan secara otomatis tersedia di telepon genggam masing-masing pengguna melalui WhatsApp dan email. Para operator wisata juga akan mendapatkan kemudahan dengan sistem pelayanan yang lebih baik, tanpa harus direpotkan dengan tugas tambahan untuk datang langsung ke kantor.
Karena petugas juga akan memperoleh transparansi dalam pengelolaan pungutan. Mereka tidak lagi perlu melakukan cash handling atau pengelolaan penerimaan tunai yang cukup sensitif, serta tidak lagi menggunakan bonggol tiket yang selama ini sering menjadi masalah dan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
"Dan ini diharapkan menjadi satu terobosan untuk menjawab temuan BPK yang selalu berulang selama ini di Kemenhut, yaitu pengelolaan bonggol sama tiketing yang kurang rapi," jelasnya.
Johan Setiawan menerangkan, masyarakat dapat menginstal aplikasi tersebut melalui Play Store maupun menggunakan versi web. Selain itu, masyarakat juga dapat datang langsung untuk melakukan registrasi dan pembayaran.
"Seperti platform belanja seperti Traveloka, Shopee dan sebagainya, sangat mudah. Dengan sistem digital tersebut, Kemenhut akan memiliki database yang valid, terpercaya, dan selalu diperbarui," terangnya.
Sebab, kata dia, setiap transaksi yang dilakukan melalui aplikasi akan langsung tercatat dalam manifest data, database Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), serta data kunjungan nasional yang terhubung ke pemerintah pusat di Jakarta.
"Karena begitu menggunakan aplikasi di sini, mengisi mau pembayaran hari ini atau besok, masuk di dalam manifest data, database PNBP dan kunjungan nasional, semuanya ter-record langsung ke Jakarta, ke pusat," tuturnya.
Lebih lanjut Johan Setiawan menjelaskan, para pelaku usaha dalam kegiatan sosialisasi tersebut juga telah melakukan pelatihan penggunaan aplikasi, mulai dari pengisian data, mencoba melakukan pembayaran, hingga melakukan booking. Bahkan, seluruh proses telah berhasil dilakukan hingga tahap transaksi pembayaran.
"Sehingga habis ini kita berharap semuanya sudah layanan di Wakatobi sudah cashless menggunakan aplikasi digital," harapnya.
Johan Setiawan berkata, bagi pelaku usaha wisata, penerapan layanan digital tersebut akan memberikan kemudahan dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan.
"Pertama dia akan lebih mudah di dalam memberikan layanan kepada wisatawannya. Dia tidak perlu mengumpulkan uang, tidak perlu lagi harus mendatangi kantor. Cukup transaksi di situ, nanti verifikasinya biar petugas," ucapnya.
Sementara bagi pengunjung yang tidak menggunakan jasa tour operator, dapat melakukan transaksi pembelian tiket secara mandiri. Dengan demikian, wisatawan memiliki akses langsung untuk mengunjungi kawasan Taman Nasional Wakatobi tanpa harus bergantung kepada operator wisata yang ada.
"Pengunjung sendiri, pengunjung yang tidak melalui tour operator itu kan bisa melakukan transaksi pembelian sendiri secara mandiri. Dengan demikian mengharapkan channel-channel jaringan untuk membawa wisatawan ke Taman Nasional tidak tergantung kepada tour operator yang ada di sini, tapi dia sudah bisa mengakses sendiri," paparnya.
Menurut Johan Setiawan, layanan digital tersebut juga sejalan dengan rencana pembukaan penerbangan rute Bali-Wakatobi, sehingga wisatawan dapat lebih mudah mengakses destinasi wisata di Wakatobi secara mandiri.
"Ini sinergi dengan rencana adanya pembukaan flight dari Bali ke Wakatobi, sehingga dia bisa mandiri. Dampak ekonominya, ketika semakin banyak, otomatis akan semakin tumbuh di situ ekonominya," paparnya.
Ia berharap para pelaku usaha wisata terus bersama-sama kompak dengan pengelola kawasan untuk memastikan pelayanan pariwisata di Wakatobi semakin baik. Johan juga berharap kemudahan layanan digital tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.
"Sehingga di situ kita berharap performa dari pariwisata Wakatobi lebih profesional dan peluang-peluang yang berkembang dengan adanya semakin banyak wisatawan datang ke sini menumbuhkan multiplier effect kepada masyarakat setempat," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....