Bukan FOMO, Kini Tren JOMO Bikin Gen Z Lebih Bahagia Rebahan

  • 25 Jun 2026 07:14 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Kehidupan generasi muda sering kali diidentikkan dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out, sebuah perasaan cemas takut tertinggal dari tren, aktivitas, atau unggahan terbaru di media sosial. Namun, belakangan ini lanskap psikologis Gen Z mengalami pergeseran menarik dengan lahirnya tren tandingan yang dikenal sebagai JOMO atau Joy of Missing Out.

Berbeda dengan FOMO yang memicu stres akibat ambisi untuk selalu terlibat dalam setiap momentum, JOMO justru merayakan seni membatasi diri secara sadar dari hiruk-pikuk dunia digital dan sosial. Tren ini mengajarkan anak muda untuk tidak merasa bersalah saat memilih absen dari agenda nongkrong atau tren viral, dan menggantinya dengan aktivitas personal yang menenangkan, termasuk menikmati waktu luang berkualitas di kamar atau yang populer disebut "rebahan".

Fenomena beralihnya gaya hidup anak muda ke arah JOMO ini bukan sekadar bentuk kemalasan atau penarikan diri dari lingkungan sosial (antisocial). Bagi banyak remaja dan dewasa muda, gerakan ini merupakan mekanisme pertahanan diri alami untuk memulihkan energi mental yang terkuras akibat paparan informasi tanpa batas (information overload) di layar gawai setiap harinya.

Dikutip dari laporan tahunan mengenai kesehatan mental anak muda yang dirilis oleh Mindscape Mental Health Institute (2025), gelombang kesadaran digital di kalangan remaja akhir menunjukkan tren yang positif. Data riset tersebut mencatat bahwa 42% responden dari kalangan Gen Z kini lebih aktif menerapkan batasan waktu layar (screen time) dan memilih aktivitas mandiri secara luring (offline) demi menjaga stabilitas emosional serta kualitas tidur mereka dari paparan kecemasan digital.

Bagi masyarakat awam yang ingin memahami lebih dalam, berikut adalah beberapa fakta penting di balik tren JOMO yang kini membuat anak muda lebih menikmati ruang personal mereka:

1. Kebebasan dari Tekanan Validasi Sosial

Penganut gaya hidup JOMO tidak lagi menggantungkan kebahagiaan mereka pada jumlah tanda suka (likes) atau pengakuan di media sosial. Mereka secara sadar memutus rantai perbandingan sosial digital yang sering kali memicu rasa rendah diri, sehingga mampu fokus pada pencapaian dan kebahagiaan yang nyata di dunia riil.

2. Optimalisasi Waktu untuk Istirahat Berkualitas

Aktivitas "rebahan" atau bed rotting dalam koridor JOMO dipandang sebagai bentuk istirahat yang fungsional, bukan kemalasan. Waktu luang ini dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang memulihkan energi fisik dan pikiran secara mendalam, seperti membaca buku, mendengarkan musik, menulis jurnal, atau sekadar tidur tanpa gangguan notifikasi gawai.

3. Membangun Hubungan Sosial yang Lebih Intim

Alih-alih menghadiri banyak acara sosial hanya demi formalitas atau konten, individu yang menerapkan JOMO cenderung lebih selektif. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama sedikit orang, seperti keluarga atau sahabat dekat, guna membangun interaksi sosial yang jauh lebih berkualitas, mendalam, dan bermakna.

Di Kendari sendiri, tren ini mulai diadopsi oleh mahasiswa dan pekerja muda yang mulai jenuh dengan rutinitas dunia maya yang serbacepat. Mengambil jeda di akhir pekan untuk menikmati ketenangan tanpa disibukkan oleh urusan update status di media sosial kini dianggap sebagai bentuk self-care atau perawatan diri yang sangat mewah.

Pada akhirnya, tren JOMO membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari seberapa sibuk atau seberapa eksis seseorang di dunia digital. Berani melepas kendali dari kepungan tren luar dan menikmati keheningan ruang personal merupakan langkah awal yang bijak untuk menemukan kedamaian sejati di tengah dunia yang bising.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....