Linda, Tarian Tradisional Masyarakat Muna
- 25 Jun 2024 21:53 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari: Sulawesi Tenggara memiliki beragam budaya dan kearifan lokal di setiap daerahnya. Salah satunya Tari Linda dari Kabupaten Muna. Tari Linda berasal dari bahasa Muna yang berarti menari sambil berkeliling, karena para penari yang mengenakan sayap indah akan berkeliling.
Tarian ini kerap diperagakan pada saat acara-acara besar seperti acara kari'a atau pingitan maupun penyambutan tamu. Tari Linda merupakan tarian tradisional masyarakat Muna yang dalam kepercayaan masyarakat Muna merupakan bentuk latihan-latihan para kalambe Muna atau gadis Muna dalam hal pengendalian diri.
Di sisi lainnya, pertunjukan Tari Linda dalam pandangan masyarakat Muna, sebagai proses pembersian diri. Dilansir dari pariwisataindonesia.id, tari ini diciptakan pada abad ke-16 oleh Wa Ode Wakelu, permaisuri Raja La Ode Ngkadiri (Raja Muna ke-12). Tari ini lalu mulai dipentaskan sejak abad ke-16, tepatnya pada masa pemerintahan La Ode Husein (Raja Muna ke-16).
“Salah satu gerakan lemah lembut dalam Tari Linda disebut berasal dari gerakan menari bidadari. Konon, asal muasal Tari Linda berasal dari legenda yang mirip dengan kisah Jaka Tarub
Tari Linda ini menjadi salah satu bagian dalam upacara kari'a, ritual khusus masyarakat Muna untuk anak perempuan yang menjelang dewasa. Upacara yang berupa pingitan ini merupakan ritual wajib anak perempuan sebelum mereka menikah. Tarian ini biasanya dibawakan oleh enam hingga delapan orang penari perempuan dan para penari mengenakan pakaian adat suku Muna.
Menurut salah satu imam masjid di Desa Lakarinta, La Ntolori, Tari Linda wajib ditampilkan dalam upacara kari'a karena masyarakat lokal mensakralkan tari tersebut sebagai syarat pensucian diri seorang anak perempuan yang menjelang dewasa. Di samping itu, keberadaan Tari Linda dalam upacara adat kari'a merupakan bentuk perayaan kemenangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....