Permainan yang Lahir dari Tanah Lapang
- 17 Sep 2026 08:14 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Ada masa ketika anak-anak tidak membutuhkan banyak benda untuk membuat sore terasa panjang. Sebuah halaman, tanah lapang, atau jalan kecil sudah cukup untuk mengumpulkan teman dan menentukan permainan apa yang akan dilakukan. Petak umpet, bentengan, gobak sodor, hingga ular naga dapat berlangsung berulang kali tanpa membutuhkan mainan khusus.
Yang membuat permainan-permainan itu menarik justru adalah anak-anak sendiri yang menciptakan keseruannya. Mereka berlari, bersembunyi, mengejar, menjaga wilayah, menentukan giliran, sekaligus membuat aturan yang disepakati bersama. Jika ada yang kalah, biasanya permainan tidak benar-benar berakhir karena beberapa menit kemudian semua kembali bermain dengan aturan yang mungkin sedikit berbeda.
Petak umpet misalnya, hanya membutuhkan tempat untuk bersembunyi dan seseorang yang bertugas mencari. Dalam bentengan dan gobak sodor, ruang kosong berubah menjadi arena yang membuat anak belajar mengejar sekaligus menghindari lawan. Sementara ular naga mengandalkan barisan anak, nyanyian, dan gerakan sederhana, sehingga permainan dapat berlangsung tanpa perlengkapan khusus.
Permainan semacam itu sebenarnya bukan hanya aktivitas untuk mengisi waktu luang. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Tambo pada 2026 tentang permainan oray-orayan atau ular naga di Cimahi menunjukkan bahwa permainan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memuat narasi, norma sosial, dan simbol budaya yang diwariskan melalui tradisi lisan. Permainan tradisional juga mempertemukan anak secara langsung sehingga mereka belajar mengikuti aturan, bekerja sama, bernegosiasi, dan menerima hasil permainan bersama.
Kini ruang bermain anak semakin berubah dan kesempatan bermain bersama di luar rumah tidak selalu sama seperti dulu. Permainan tanpa alat tersebut pun tidak sepenuhnya menghilang, tetapi semakin bergantung pada apakah masih ada ruang, teman, dan generasi yang mengenalkannya kepada anak-anak berikutnya.
Menariknya, permainan seperti ini tidak membutuhkan teknologi untuk membuat anak betah berjam-jam. Yang membuatnya hidup adalah kehadiran teman, gerak tubuh, imajinasi, dan sedikit ruang untuk berlari.
Kesederhanaannya menjadi sesuatu yang berharga. Ketika sebuah permainan hanya membutuhkan beberapa anak dan sebidang tanah lapang, yang tertinggal setelah permainan selesai bukan hanya rasa lelah, tetapi juga pengalaman bersama yang suatu hari bisa menjadi kenangan masa kecil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....