Enam Film Indonesia Tampil di Busan International Film Festival 2026

  • 13 Sep 2026 15:05 WIB
  •  Kendari
Poin Utama
  • Enam film produksi Indonesia atau co-production berhasuk masuk dalam berbagai program Busan International Film Festival 2026.
  • Busan International Film Festival 2026 akan diselenggarakan pada 6-15 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan.
  • Kehadiran sinema Indonesia di BIFF merupakan bukti peningkatan apresiasi internasional terhadap karya sineas Tanah Air di festival film bergengsi Asia.

RRI.CO.ID, Kendari Sinema Indonesia kembali mendapat ruang di salah satu festival film bergengsi Asia. Sejumlah karya sineas Indonesia dan film produksi bersama perusahaan film Tanah Air akan hadir dalam Busan International Film Festival (BIFF) 2026.

BIFF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 15 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan. Tahun ini, setidaknya enam film yang melibatkan sineas atau rumah produksi Indonesia masuk dalam berbagai program festival.

Dari jumlah tersebut, empat film merupakan karya sineas Indonesia, sementara dua lainnya merupakan produksi internasional yang melibatkan Indonesia.

Keempat film Indonesia tersebut hadir melalui tiga program, yakni Kompetisi Utama, A Window on Asian Cinema, dan Wide Angle – Asian Short Film Competition.

Dua Film Indonesia Masuk Kompetisi Utama

Dua karya Indonesia mendapat tempat di program paling kompetitif BIFF 2026.

Pertama adalah “Ibuku” karya sutradara Eddie Cahyono. Film ini dibintangi Christine Hakim dan Ayushita.

“Ibuku” mengisahkan Sumiati, seorang ibu yang berusaha menemui putrinya, Sri, yang sedang menjalani hukuman mati di Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya.

Perjalanan Sumiati untuk bertemu sang anak kemudian membuka kembali berbagai persoalan dalam hubungan ibu dan anak. Film ini juga mengangkat isu mengenai pekerja migran, perempuan, dan hak asasi manusia.

Film kedua adalah “The Sea Speaks His Name (Laut Bercerita)” garapan Yosep Anggi Noen.

Film tersebut mengikuti kisah Biru Laut, seorang mahasiswa di Yogyakarta yang memiliki ketertarikan terhadap buku, menulis, dan kebebasan berekspresi.

Ketika sejumlah mahasiswa ditangkap karena membaca buku yang dilarang, Laut dan teman-temannya kemudian bergabung dengan kelompok studi Winatra. Dari sana, mereka mulai terlibat dalam gerakan yang memperjuangkan kebebasan berekspresi.

Kedua film tersebut akan bersaing dalam Kompetisi Utama BIFF 2026.

“Empat Musim Pertiwi” Bawa Kisah Perempuan

Sementara itu, sutradara Kamila Andini membawa film “Four Seasons in Java (Empat Musim Pertiwi)” ke program A Window on Asian Cinema.

Film yang dibintangi Putri Marino ini berkisah tentang Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun.

Kepulangannya justru membawa berbagai persoalan lama ke permukaan. Kampung yang dulu diharapkan berkembang setelah mendapat aliran listrik ternyata tidak banyak berubah.

Di tengah situasi tersebut, Pertiwi harus menghadapi hubungan masa lalu, konflik dengan keluarga, hingga orang-orang yang pernah membuatnya dipenjara dan kini justru memiliki pengaruh besar di desa.

Film Pendek “αLPα” Ikut Berkompetisi

Satu lagi karya Indonesia hadir dalam kompetisi film pendek. “αLPα” garapan Dhiwangkara Seta masuk program Wide Angle – Asian Short Film Competition.

Film ini bercerita tentang Banyu, seorang vokalis punk yang dikirim ke pusat rehabilitasi moral setelah ditangkap.

Di tempat tersebut, Banyu bertemu dengan Deri, sosok dari masa lalunya yang kini dikenal sebagai ulama terpandang. Pertemuan itu kemudian membawa Banyu menghadapi sistem yang membatasi kebebasannya.

Dua Film Internasional Libatkan Indonesia

Selain karya sineas Indonesia, dua film produksi internasional yang melibatkan perusahaan film asal Indonesia juga masuk program A Window on Asian Cinema.

Film pertama adalah “9 Temples to Heaven” garapan sutradara Thailand Sompot Chidgasornpongse. Film ini merupakan produksi bersama Thailand, Singapura, Prancis, Norwegia, China, Hong Kong, Indonesia, dan Qatar.

Film kedua adalah “Hearing” karya sutradara Vietnam Le Bao. Produksinya melibatkan Singapura, Vietnam, Norwegia, Prancis, Indonesia, Arab Saudi, Kamboja, Thailand, dan Taiwan.

Kehadiran enam film tersebut menunjukkan semakin luasnya keterlibatan Indonesia dalam ekosistem perfilman Asia.

Bagi sineas Tanah Air, tampil di BIFF juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan cerita dan perspektif Indonesia kepada penonton internasional.

Busan International Film Festival sendiri menjadi salah satu festival film penting di Asia dan menjadi ruang pertemuan bagi karya-karya sinema dari berbagai negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....