Empat Musim Pertiwi, saat Luka Diceritakan lewat Alam
- 23 Agt 2026 19:26 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Film drama Indonesia “Empat Musim Pertiwi” menawarkan cara berbeda dalam menceritakan luka dan perjalanan seseorang untuk berdamai dengan masa lalu. Karya terbaru sutradara Kamila Andini ini tidak hanya mengandalkan dialog, tetapi juga menjadikan lanskap alam, suara, dan visual sebagai bagian penting dari cerita.
Dari laman ulasan film veniceproductionbridge.org, film produksi Forka Films ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Sebelumnya, film dengan judul internasional Four Seasons in Java ini akan menjalani world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 dalam program Centrepiece.
Cerita berpusat pada Pertiwi, diperankan Putri Marino, yang kembali ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun menjalani hukuman penjara. Kepulangannya justru mempertemukannya kembali dengan masa lalu, termasuk penolakan dari lingkungan dan keluarganya.
Menurut laman resmi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), Pertiwi pulang tanpa sambutan dan menemukan kampung yang sudah banyak berubah. Di tengah keterasingan tersebut, ia justru dekat dengan orang-orang yang sama-sama berada di luar lingkaran masyarakat. Perlahan, berbagai kejadian aneh mulai muncul, termasuk barang elektronik lama yang kembali menyala dan kemunculan sosok misterius.
Yang menjadi keunikan film ini adalah penggunaan empat musim sebagai metafora perjalanan emosional Pertiwi. Setiap fase menggambarkan proses menghadapi luka, kesendirian, tekanan, hingga upaya menemukan kembali ketenangan.
Pendekatan tersebut membuat “Empat Musim Pertiwi” tidak hanya menjadi drama tentang kepulangan seseorang, tetapi juga perjalanan untuk memahami kembali arti rumah, keluarga, dan rasa damai. Laman mubi.com juga menggambarkan film ini sebagai perjalanan Pertiwi untuk mendefinisikan kembali makna rumah, keluarga, dan kedamaian.
Selain Putri Marino, film ini menghadirkan Arya Saloka sebagai Bisma, Christine Hakim sebagai Mak Ira, serta Hana Malasan sebagai Niken. Sejumlah aktor lain turut memperkuat jajaran pemeran film tersebut.
Film ini merupakan kolaborasi produksi internasional dan menggunakan Bahasa Indonesia serta Jawa, dengan lokasi produksi di Jawa Timur. Data yang dipublikasikan Venice Production Bridge mencatat Kamila Andini sebagai sutradara sekaligus penulis dan Ifa Isfansyah sebagai produser.
Melalui pendekatan visual yang kuat dan cerita tentang proses berdamai dengan masa lalu, “Empat Musim Pertiwi” menawarkan pengalaman menonton yang tidak hanya berfokus pada konflik, tetapi juga pada suasana dan perjalanan emosional karakter utamanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....