JOMO, Menikmati Ketertinggalan di Era Serba Cepat

  • 10 Mei 2026 11:33 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Muncul fenomena JOMO atau Joy of Missing Out di tengah budaya yang mendorong seseorang untuk selalu mengikuti tren. Istilah ini menggambarkan perasaan nyaman ketika tidak ikut dalam semua hal yang sedang ramai dibicarakan.

Berbeda dengan FOMO yang dipenuhi rasa takut tertinggal, JOMO justru menghadirkan ketenangan. Seseorang memilih fokus pada kebutuhan diri tanpa merasa harus selalu terhubung dengan dunia digital di era yang serba cepat ini.

Fenomena ini semakin berkembang seiring meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental. Banyak orang mulai menyadari bahwa terlalu banyak informasi dapat memicu kelelahan emosional.

Menurut penelitian dalam jurnal Psychology and Behavioral Science, kemampuan menikmati waktu tanpa tekanan sosial berkaitan dengan meningkatnya kesejahteraan psikologis. Kesadaran terhadap batas diri menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup.

Praktik JOMO dapat terlihat dari kebiasaan sederhana seperti mengurangi waktu media sosial atau menikmati waktu sendiri tanpa rasa bersalah. Aktivitas ini membantu pikiran lebih tenang dan tidak terus terbebani arus informasi.

Selain itu, JOMO juga membuat seseorang lebih hadir dalam kehidupan nyata. Fokus tidak lagi tertuju pada apa yang dilakukan orang lain, tetapi pada pengalaman pribadi yang sedang dijalani.

Di era serba cepat, memilih untuk melambat menjadi hal yang semakin bernilai. Tidak semua tren harus diikuti demi merasa diterima oleh lingkungan sosial.

Namun, JOMO bukan berarti menutup diri dari dunia luar sepenuhnya. Konsep ini lebih menekankan kemampuan memilih apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri.

Dengan demikian, JOMO menjadi bentuk adaptasi terhadap tekanan sosial di era digital. Menikmati ketertinggalan dalam beberapa hal justru dapat membantu seseorang hidup lebih tenang dan seimbang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....