Para Perasuk Bukan Horor, Angkat Obsesi Manusia Mendalam
- 15 Apr 2026 19:52 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Film Para Perasuk tampil dengan pendekatan berbeda dengan mengangkat tema obsesi manusia melalui kisah yang emosional. Karya ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi refleksi perjalanan batin sekaligus pengalaman pribadi sang pembuat film.
Sutradara Wregas Bhanuteja mengungkapkan bahwa proses produksi film ini memakan waktu panjang, dimulai sejak 2024 hingga akhirnya siap dirilis. Dalam konferensi pers di XXI Epicentrum Jakarta, ia menyebut perjalanan selama lebih dari dua tahun tersebut menjadi momen yang mengharukan.
Tahapan produksi film ini tergolong kompleks, mulai dari penulisan naskah hingga pascaproduksi. Bahkan sebelum tayang di Indonesia, Para Perasuk sudah lebih dulu dipresentasikan di ajang internasional.
Wregas juga menegaskan bahwa film ini bukanlah film horor seperti yang banyak diasumsikan. Cerita justru berfokus pada obsesi manusia, terutama melalui tokoh Bayu yang memiliki ambisi besar untuk menjadi perasuk terbaik.
Inspirasi cerita film ini berasal dari pengalaman pribadi sang sutradara yang telah mengenal dunia spiritual sejak kecil. Pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi kisah yang lebih luas dan relevan bagi penonton.
Dalam proses produksinya, film ini melibatkan jumlah figuran yang sangat besar, mencapai sekitar seribu orang. Mereka terlibat dalam beberapa adegan penting yang membutuhkan koordinasi intensif.
Secara prestasi, Para Perasuk berhasil masuk dalam kompetisi utama Sundance Film Festival 2026, yang hanya diikuti sepuluh film terpilih dari berbagai negara. Selain itu, film ini juga dijadwalkan tampil di sejumlah festival internasional lain seperti Miami Film Festival serta festival di Brazil dan Eropa.
Keikutsertaan dalam berbagai festival ini menjadi bagian dari strategi distribusi global sebelum film resmi tayang di bioskop Indonesia. Wregas juga mengungkapkan bahwa film ini mendapat sambutan positif berupa standing ovation di Sundance, meski sempat ada kekhawatiran terkait pemahaman penonton internasional terhadap budaya kerasukan di Indonesia.
Di sisi produksi, Iman Usman menyebut kendala utama terletak pada keterbatasan anggaran, mengingat skala produksi yang cukup besar. Banyaknya elemen teknis dan sumber daya yang terlibat membuat proses pengerjaan menjadi lebih menantang.
Namun demikian, kolaborasi antara kru dan para pemain menjadi faktor penting yang membantu menyelesaikan film ini. Pendekatan kerja yang kolektif membuat proses kreatif terasa lebih dinamis dan menyenangkan.
Hasilnya, Para Perasuk hadir dengan kekuatan cerita dan visual yang lebih kaya, sekaligus menawarkan pengalaman sinematik yang penuh makna bagi penonton.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....