Kebangkitan Film Nasional, Penonton Bioskop Cetak Rekor Baru
- 29 Mar 2026 08:36 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari — Industri perfilman Indonesia sedang berada dalam momentum kebangkitan yang tak terbantahkan. Film komedi investigasi Agak Laen: Menyala Pantiku! baru saja mencetak sejarah sebagai film terlaris sepanjang masa di Indonesia dengan lebih dari 10,9 juta penonton, mengalahkan rekor Avengers: Endgame yang bertahan sejak 2019.
Kesuksesan film arahan Muhadkly Acho ini tidak lepas dari kekuatan komedi khas kuartet "Pasukan Bermoral" yang juga populer melalui podcast Agak Laen. Berdasarkan data laman pemantau bioskop Cinepoint, pencapaian ini sekaligus menegaskan dominasi film lokal atas produksi Hollywood di pasar domestik.
Tak hanya film komedi, genre lain juga mencatatkan pencapaian luar biasa. Pelangi di Mars, film fiksi ilmiah garapan Upie Guava yang dirilis pada Maret 2026, menggunakan teknologi Extended Reality (XR) dan Unreal Engine yang biasanya dipakai dalam produksi Hollywood seperti Star Wars.
Riset teknologi untuk Pelangi di Mars memakan waktu hampir tiga tahun sebelum diterapkan dalam produksi. Hal ini menandakan keseriusan industri film tanah air dalam mengadopsi teknologi mutakhir untuk bersaing di kancah global.
Sementara itu, Pabrik Gula arahan Awi Suryadi berhasil mengumpulkan 7 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp110 miliar, menjadikannya film Indonesia terlaris sepanjang 2025. Adaptasi novel Leila S. Chudori berjudul Laut Bercerita dan film Na Willa yang diangkat dari karya sastra populer turut meramaikan daftar film yang dinanti tahun ini.
Di balik gemilangnya capaian angka penonton, kritik tetap muncul dari pelaku industri. Bambang Supriadi, dosen film Institut Kesenian Jakarta, mengingatkan bahwa para kreator jangan sampai menjadi seperti "sapi perah" tanpa kesejahteraan yang memadai.
Menurutnya, angka penonton yang megah tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kesehatan industri jika para pembuat film di balik layar masih hidup dalam ketidakpastian. Kesejahteraan tenaga kerja kreatif perlu menjadi perhatian utama agar kebangkitan ini berkelanjutan.
Kabar baiknya, pemerintah mulai bergerak dengan meluncurkan program bioskop mikro digital yang dapat menjangkau kecamatan yang belum memiliki gedung bioskop konvensional. Badan Perfilman Indonesia tengah menyusun Rencana Induk Perfilman Nasional untuk menyatukan arah kebijakan agar tidak lagi terfragmentasi.
Dari Agak Laen: Menyala Pantiku! yang mencetak sejarah, Pelangi di Mars yang memukau secara visual, Pabrik Gula yang menegangkan, hingga Na Willa yang hangat, semuanya menunjukkan satu hal: film Indonesia sedang menemukan jati dirinya. Kini tugas selanjutnya adalah memastikan bahwa kebangkitan ini berkelanjutan dan kesejahteraannya dirasakan oleh semua insan yang terlibat di dalamnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....