Ramadan Momentum Pendidikan Jiwa dan Perubahan
- 25 Feb 2026 15:49 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Program rutin Pro 1 RRI Kendari, Segmen KURMA (Kisah Unik Ramadan), kembali hadir menyapa pendengar pada Rabu (25/2/2026). Kali ini menghadirkan narasumber H. Wahid Nursalim, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mandonga, Kota Kendari.
Dalam perbincangan hangat tersebut, H. Wahid Nursalim menyampaikan bahwa makna Ramadan yang paling dalam sering kali terlupakan oleh masyarakat, yakni sebagai “syarah tarbiah” atau pendidikan jiwa dan raga.
Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan proses pembelajaran tentang disiplin, kesabaran, dan pengendalian diri. Ia mencontohkan, banyak orang yang merasa tidak bisa beraktivitas tanpa sarapan, namun saat Ramadan justru mampu menjalani hari dengan baik bahkan lebih sehat.
| Baca juga: Daftar Sinetron yang Tayang Warnai Ramadan |
“Ramadan itu sekolah kehidupan. Kalau setelah Ramadan tidak ada perubahan dalam sikap dan akhlak, berarti kita hanya mendapatkan lapar dan hausnya saja,” ujarnya.
Dalam segmen tersebut, ia juga membagikan kisah Ramadan paling berkesan dalam hidupnya. Pengalaman itu terjadi pada tahun 2000 saat dirinya mendaftar sebagai calon pegawai negeri sipil di Kolaka. Ia berangkat seorang diri tanpa keluarga dan setibanya di sana langsung singgah di masjid untuk menunggu waktu berbuka puasa.
Usai azan magrib, imam masjid setempat mengajaknya ke rumah, memberi makan, bahkan mempersilakan menginap serta membantu mempermudah sejumlah urusan administrasi.
“Itu keberkahan Ramadan yang sangat membekas. Di bulan itu Allah pertemukan saya dengan orang-orang baik yang membantu tanpa pamrih,” kenangnya.
Sebagai Kepala KUA Mandonga, H. Wahid juga membagikan pengalaman unik selama bertugas. Ia mengaku pernah menerima pasangan yang datang mengurus pernikahan hanya dua hari sebelum akad dan datang menjelang jam pulang kantor. Padahal, secara aturan, pendaftaran pernikahan minimal dilakukan 10 hari sebelum hari pelaksanaan.
Meski demikian, pihaknya tetap memberikan pelayanan dan penjelasan dengan baik kepada masyarakat.
“Di situlah kesabaran diuji. Ramadan mengajarkan kita untuk tetap melayani dengan ikhlas dan memberikan pemahaman dengan cara yang santun,” katanya.
Di akhir perbincangan, H. Wahid Nursalim berpesan agar masyarakat Kota Kendari menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan diri, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Ia berharap nilai-nilai kesabaran, kejujuran, kepedulian, dan kedisiplinan yang dilatih selama Ramadan dapat terus terjaga bahkan setelah bulan suci berakhir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....