Review "The Substance" : Cantik Adalah Maut

  • 03 Nov 2024 22:13 WIB
  •  Kendari

KBRN, Kendari : The Substance, film terbaru dari sutradara Prancis Coralie Fargeat, menawarkan pengalaman sinematik yang intens, mengguncang, dan mengungkap sisi tergelap dari obsesi manusia terhadap kemudaan dan kesempurnaan. Film ini memulai debutnya di Festival Film Cannes 2024 dan langsung mendapat sorotan serta penghargaan untuk skenario terbaik, berkat penggabungan genre body horror dan elemen psikologis yang memikat, mirip dengan karya-karya legendaris David Cronenberg. Dengan gaya khas Fargeat yang berani dan penuh satir, The Substance menghadirkan kritik pedas terhadap industri hiburan dan tekanan sosial yang memaksa orang, terutama wanita, untuk tetap terlihat muda, cantik, energik, ceria, dan tentunya “sempurna.”

The Substance berpusat pada karakter Elisabeth Sparkle (Demi Moore), seorang mantan bintang aerobik yang pernah berjaya di dunia hiburan tetapi kini menghadapi karier yang merosot. Memasuki usia 50-an, Elisabeth mendapati dirinya terjebak dalam standar kecantikan yang tidak terjangkau dan terus-menerus dituntut untuk tampil muda dan segar. Setelah mendengar percakapan telepon yang melecehkan dari produsernya dan mengalami kecelakaan mobil, Elisabeth merasa dunia hiburan telah mengkhianatinya. Sang produser memutuskan untuk mencari pengganti yang lebih muda, meninggalkan Elisabeth dengan perasaan tidak berharga.

Dalam keterpurukannya, Elisabeth menemukan solusi ajaib berupa serum misterius bernama "The Substance," yang diperkenalkan oleh seorang perawat. Serum ini menjanjikan kemudaan abadi dan kesempurnaan fisik, tetapi ada harga yang harus dibayar: setiap tujuh hari, Elisabeth harus "menukar" tubuhnya dengan sosok muda yang dihasilkan oleh serum, yang bernama Sue (Margaret Qualley). Sue adalah versi sempurna dari Elisabeth—muda, cantik, dan memikat—namun berbahaya. Dengan tubuh yang bergantian antara Elisabeth dan Sue, batas antara identitas asli Elisabeth dan alter ego-nya semakin kabur, membuat Elisabeth kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Coralie Fargeat membagi film ini dalam tiga babak yang tersusun dengan rapi, dengan setiap babak menggali lapisan lebih dalam dari karakter Elisabeth dan obsesinya.

Babak pertama memperkenalkan Elisabeth sebagai seorang selebriti yang mulai kehilangan pesonanya. Di sini, Fargeat memanfaatkan adegan cermat yang menggambarkan keruntuhan ketenaran Elisabeth, menggunakan visual flashback yang menceritakan perjalanan kariernya. Elisabeth diproyeksikan sebagai sosok yang pernah bersinar namun kini mulai redup, dengan walk of fame imajinatif yang menurun dari waktu ke waktu, simbol ketidakberdayaannya melawan tuntutan usia dan standar kecantikan yang tak kenal ampun.

Babak kedua, di mana Elisabeth mulai menggunakan serum, adalah titik balik yang memperkenalkan aspek body horror khas Fargeat. Elisabeth menyuntikkan cairan hijau yang menakutkan ke dalam tubuhnya, dan lahirlah Sue, versi sempurna dan muda dari dirinya. Fargeat mengarahkan babak ini dengan ritme yang lebih cepat dan penuh ketegangan, membawa penonton pada transisi tubuh dan identitas antara Elisabeth dan Sue. Elisabeth mulai menyadari bahwa Sue bukan hanya refleksi fisik dirinya yang lebih muda, tetapi juga representasi dari ambisi dan sisi gelapnya yang siap merusak. Setiap kali Elisabeth berusaha kembali ke tubuhnya, Sue semakin memperlihatkan dominasi, mencerminkan tekanan sosial untuk tetap muda dan sempurna.

Di babak ketiga, atmosfer semakin mencekam ketika Elisabeth sepenuhnya terperangkap dalam siklus penghancuran diri akibat penggunaan serum. Fargeat dengan tegas menggambarkan kehancuran fisik dan mental Elisabeth ketika Sue mulai mengambil alih seluruh kehidupannya. Babak ini menampilkan klimaks di mana tubuh Elisabeth menunjukkan efek mengerikan akibat penggunaan serum, dengan adegan disturbing yang mengeksploitasi transformasi fisik dan mental yang menghancurkan. Elisabeth dihadapkan pada realitas pahit dari obsesinya sendiri, di mana tubuhnya menjadi simbol dari kegagalan untuk menerima usia dan batasan dirinya.

Demi Moore memberikan performa luar biasa dalam menghidupkan karakter Elisabeth Sparkle. Moore berhasil menunjukkan kedalaman emosi seorang wanita yang dihantui oleh usia dan kariernya yang memudar, serta ketakutan kehilangan relevansi di industri yang tak memaafkan perubahan fisik. Moore mengajak penonton merasakan keputusasaan Elisabeth, yang semakin tersiksa oleh keputusan-keputusan fatal yang ia buat.

Sementara itu, Margaret Qualley menghadirkan sisi berbeda sebagai Sue, sosok muda yang tampak sempurna namun sekaligus menyeramkan. Qualley menggambarkan Sue sebagai sosok yang polos di permukaan, tetapi memiliki sisi manipulatif yang membuatnya semakin menonjol. Transformasi antara Elisabeth dan Sue menunjukkan kedalaman psikologis kedua karakter, yang menjadi refleksi dari tema utama film: betapa rapuhnya identitas ketika dihadapkan pada tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial yang tidak realistis.

Dengan sinematografer Benjamin Kracun di balik layar, The Substance menjadi tontonan visual yang memikat. Penggunaan warna-warna cerah, seperti pink, kuning, dan merah, memberikan kontras dengan tema kelam film, menciptakan suasana visual yang unik dan menegangkan, dan juga beberapa hal menginspirasi sinematografer dalam hal visualnya yang terinpirasi dari horror klasik seperti dalam film The Shining mahakarya dari Stanley Kubrick yang rilis pada tahun 1980. Teknik close-up yang sering digunakan untuk menangkap emosi karakter semakin memperkuat ketegangan psikologis dan menciptakan rasa tidak nyaman yang terus menghantui.

Desain set dengan latar modern dan nuansa tahun 80-an memberikan kesan isolasi, seolah-olah Elisabeth terjebak dalam dunia buatan yang hanya menuntut kesempurnaan. Lokasi kamar mandi, yang sering kali menjadi tempat “transformasi” Elisabeth ke dalam sosok Sue, memperlihatkan betapa besar tekanan yang dihadapi karakter utama ini dalam usahanya untuk mempertahankan kecantikan yang dianggap sempurna.

Body horror dalam The Substance berhasil mengeksplorasi penghancuran diri secara fisik dan psikologis yang dialami Elisabeth. Fargeat tidak ragu menunjukkan adegan tubuh yang terdistorsi dan efek serum yang mengerikan. Penggunaan prostetik dan efek praktikal memperlihatkan tubuh Elisabeth yang mulai hancur akibat ketergantungan pada serum, memberikan pengalaman yang disturbing namun sesuai dengan tema film ini. Adegan-adegan tersebut merepresentasikan penghancuran diri yang dialami Elisabeth, yang diibaratkan sebagai penolakan terhadap realitas usia dan kondisi fisiknya yang sebenarnya.

Musik yang digarap oleh Raffertie turut memperkuat atmosfer tegang dalam The Substance. Sentuhan electro house synthwave ala tahun 80-an memberikan kesan vintage dan menggugah, tetapi juga menyiratkan ketegangan. Raffertie berhasil menciptakan perpaduan antara melodi ceria namun aneh, yang memberikan nuansa tidak nyaman, sangat cocok dengan situasi psikologis Elisabeth yang mulai runtuh. Skor musik ini berhasil memperkuat intensitas adegan-adegan horror dan menciptakan efek mencekam, seakan-akan penonton turut terseret dalam kegilaan yang dialami Elisabeth.

The Substance bukan hanya sekadar film horor, tetapi sebuah kritik mendalam terhadap standar kecantikan dan tekanan industri hiburan. Coralie Fargeat berhasil mengeksplorasi obsesi manusia terhadap kemudaan dengan pendekatan yang menghantui dan "disturbing", membawa penonton pada perjalanan psikologis yang penuh konsekuensi. Performanya yang kuat, visual yang mencolok, serta body horror yang intens menjadikan The Substance sebagai salah satu karya horor yang paling berani dan provokatif tahun ini.

Film ini tidak hanya menghibur tetapi juga menggugah kesadaran akan betapa berbahayanya obsesi akan kesempurnaan fisik, dengan Elisabeth Sparkle sebagai simbol dari seseorang yang perlahan-lahan kehilangan jati dirinya demi mengikuti standar yang tak terjangkau. Melalui film ini, Fargeat seolah mengingatkan: betapa pun kita berusaha melawan usia, pada akhirnya, penerimaan adalah satu-satunya jalan untuk menjaga kewarasan dan identitas. Apakah kecantikan itu rasa sakit? tentunya film The Substance sudah menjawabnya dengan lugas: kecantikan adalah maut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....