Suyanto, Penjual Roti Gepeng yang Tak Kenal Lelah

  • 31 Okt 2025 16:02 WIB
  •  Kendari

KBRN, Kendari: Di tengah hiruk pikuk Kota Kendari yang kian berkembang, sosok sederhana bernama Suyanto menjadi pemandangan akrab di sejumlah lorong sempit kota ini.

Pria asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu telah menekuni pekerjaan sebagai penjual roti keliling sejak tahun 2017. Dengan pikulan di bahunya, ia berkeliling dari satu kawasan ke kawasan lain sambil menawarkan roti dengan berbagai rasa yang menggugah selera.

Setiap hari, selepas salat Subuh, Suyanto mulai berkeliling membawa 264 roti yang ia ambil dari bosnya. Sistem penjualan yang ia jalankan cukup unik. Ia mengambil roti terlebih dahulu untuk dijual, lalu membayarnya kepada bos dengan jumlah yang tetap, berapa pun roti yang berhasil terjual.

Baginya, sistem tersebut sudah biasa dijalani selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari rutinitas harian yang ia tekuni dengan sabar.

Roti yang dijual Suyanto dibanderol seharga Rp3.000 per biji atau dua biji seharga Rp5.000. Varian rasanya pun beragam, mulai dari kacang hijau, coklat kacang, keju, kelapa, hingga coklat. Menurutnya, terkadang seluruh roti dapat habis terjual dalam satu kali perjalanan, namun ada kalanya baru habis setelah dua kali keliling.

Bagi Suyanto, berdagang bukan hanya pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Ia menuturkan bahwa latar belakang keluarganya yang juga pedagang membuatnya terbiasa dan menyukai dunia jualan sejak lama.

Ia merasa cara menjual dengan dipikul lebih praktis dibandingkan menggunakan gerobak, sebab dengan cara itu ia dapat menjangkau jalan-jalan kecil dan lorong sempit yang tidak bisa dilalui gerobak.

Di Kota Kendari sendiri terdapat sekitar 20 penjual roti gepeng yang beroperasi setiap hari. Namun, Suyanto memiliki prinsip berbeda dalam menjalankan usahanya. Jika roti yang dijualnya tidak habis, ia lebih memilih memberikannya kepada teman, bukan menjual ulang atau membuangnya.

Ia meyakini bahwa menjual kembali roti sisa hanya akan mengurangi kepercayaan pembeli dan merugikan usaha mereka sendiri.

Kini, Suyanto menjalani hidupnya seorang diri di Kendari. Keluarganya tetap tinggal di Jawa, termasuk anak semata wayangnya yang kini berusia tujuh tahun.

Sejak bayi, anak itu dibawa oleh mantan istrinya, dan hingga kini Suyanto belum pernah bertemu kembali dengannya. Meski begitu, ia tetap tegar dan menjadikan pekerjaannya sebagai sumber semangat untuk terus bertahan.

Menjelang bulan Ramadan, Suyanto biasanya tidak berjualan roti. Ia memilih untuk pulang kampung atau mencari pekerjaan lain seperti menjadi kuli bangunan selama bulan puasa. Rutinitas tersebut sudah ia lakukan setiap tahun sebagai bentuk jeda dari aktivitas berjualan sehari-hari.

Meski kehidupannya sederhana, Suyanto adalah potret ketekunan dan kejujuran seorang perantau yang gigih. Setiap langkahnya menyusuri lorong-lorong kota membawa pesan tentang kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan.

Di tengah teriknya matahari Kendari, suara langkahnya yang memikul roti menjadi saksi ketulusan seorang pedagang yang tak pernah lelah menjemput rezeki.

(Munawaroh Fitrianti. A, Universitas Halu Oleo)


Rekomendasi Berita