Dari Ladang Itik ke Panggung Akademik (III)

  • 25 Sep 2025 20:13 WIB
  •  Kendari

KBRN,Kendari: Memasuki dunia pendidikan formal seringkali menjadi pintu gerbang menuju masa depan. Namun, bagi Prof. Dr. I Ketut Suardika, pintu gerbang itu dibuka dengan sebuah keunikan: sebuah identitas yang "diciptakan" oleh seorang guru.

Bagian ketiga dari kisah hidupnya ini bukan hanya tentang memulai sekolah, tetapi tentang bagaimana sebuah nama dan tanggal lahir menjadi simbol dimulainya sebuah perjalanan panjang.

Kembali ke Akar: Perpisahan yang Pahit dan Harapan Baru di Bali

Setelah enam tahun merantau, keluarga Suardika memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Tabanan, Bali. Perpisahan dari RM3 RD 1 di Lampung meninggalkan kesedihan mendalam.

Melihat pemukiman itu menghilang dari balik jendela bus terasa seperti memutuskan benang-benang kenangan indah bersama kakak dan keponakannya yang memilih menetap.

Namun, hidup bagai roda yang berputar. Kembali ke Bali adalah babak baru. Pekerjaan orang tua tetap sama: bertani dengan tekun.

Yang berbeda, kehidupan mereka sedikit lebih baik dengan tambahan puluhan itik dan babi, yang tidak hanya menambah penghasilan tetapi juga finally menyediakan menu daging yang lebih teratur di meja makan.

Ibu: Pengantar ke Gerbang Pendidikan dengan Satu Pesan Abadi

Di sebuah pagi, ibu mengambil peran baru: mengantarkan Suardika kecil ke sebuah bangunan kayu bernama sekolah. Ia hanya mengantar sampai depan pintu, lalu bergegas kembali ke ladang.

Namun, sebelum pergi, ia menitipkan pesan yang kelak menjadi prinsip hidup Prof. Suardika: "Kalau sekolah, sekolah yang baik. Kalau kerja, kerja yang baik agar bermanfaat untuk banyak orang," tuturnya.

Pesan sederhana itu, yang diucapkan seorang ibu petani yang tidak berpendidikan tinggi, mengandung filosofi mendalam tentang integritas dan tujuan hidup. Itu adalah bekal terpenting yang dibawanya memasuki dunia akademik.

"Ajaibnya" Metode Guru: Menentukan Umur dengan Jangkauan Tangan

Saat mendaftar di Sekolah Rakyat (SR) Baturiti Krambitan pada 1967, tantangan pertama adalah administrasi. Kala itu, akta kelahiran adalah barang mewah.

Catatan orang tua hanya menyebut ia lahir di Lampung saat pohon rambutan berbuah pertama kali—sebuah rujukan yang tidak bisa digunakan untuk dokumen resmi.

Sang guru kemudian punya cara jenius. Ia menyuruh Suardika kecil mengangkat tangan kanannya ke atas kepala.

"Coba sentuh telinga kiri. Bisa?" tanya guru itu. Setelah mengamati dengan saksama, sang guru mendeklarasikan dengan yakin: "Kamu lahir 15 Maret 1961 di Tabanan," lanjutnya.

Dalam sekejap, tempat lahirnya "berpindah" dari Lampung ke Bali. Metode yang mungkin terlihat sederhana ini justru menjadi penyelamat bagi akses pendidikannya.

Memilih Nama: Dari "I Ketut Metro" Menjadi "I Ketut Suardika"

Masalah berikutnya adalah nama. Saat ditanya namanya, ia menjawab "I Ketut Metro". Namun, ia sendiri merasa tidak percaya diri dengan nama itu. "Jangan pakai nama itu, Pak," protesnya. Sang guru kemudian menawarkan alternatif: "Gimana kalau I Ketut Suastika?," katanya.

Dengan keyakinan diri seorang anak, ia menawarkan pilihan lain: "I Ketut Suardika saja, Pak Guru. Lebih bagus!," ujarnya.

Dialog singkat itulah yang akhirnya menetapkan identitas yang kita kenal sekarang. Sejak pagi itu, dimulailah perjalanan pendidikan dengan nama baru: I Ketut Suardika.

Refleksi: Identitas sebagai Doa dan Kenangan

Banyak yang bilang nama adalah doa. Bagi Prof. Suardika, nama dan tanggal lahirnya adalah sebuah kenangan unik yang penuh makna.

Ia tidak pernah menyesal. Identitas "baru" itu justru memberinya kenyamanan dan menjadi tiketnya untuk menempuh pendidikan dari SD hingga meraih gelar Doktor dan Guru Besar.

Kadang, keputusan-keputusan kecil yang tampak tidak biasa di masa lalu, justru bisa membawa pada pencapaian yang luar biasa.

(Bagian III)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....