Dari Ladang Itik ke Panggung Akademik (II)
- 25 Sep 2025 20:03 WIB
- Kendari
KBRN,Kendari: Sebelum menjadi seorang guru besar, Prof. Dr. I Ketut Suardika adalah seorang anak petani kecil di Lampung.
Bagian kedua dari kisah hidupnya mengajak kita menyelami dunia masa kecil yang sederhana, di mana kebahagiaan ditemukan dalam hal-hal kecil dan persahabatan yang tulus. Sebuah metafora indah tentang Indonesia pun lahir dari kenangan ini: kerupuk lonteng.
Kebahagiaan Sederhana di Ujung Lorong Pasar
Bagi Suardika kecil, kebahagiaan tidaklah rumit. Ia hadir dalam bentuk kerupuk lonteng—kerupuk ubi kayu berwarna-warni yang dibawa pulang oleh kakak iparnya dari pasar sejauh sepuluh kilometer.
Saat kerupuk itu dikeluarkan dari keranjang, kegembiraan meledak. Ia dan keponakannya, Ni Wayan Sriyani, yang usianya hanya setahun lebih muda, akan berebut dengan riang gembira.
Mereka adalah sahabat karib yang menghabiskan hari-hari di sebuah rawa jernih yang membelah sawah gago ayahnya. Disanalah surga mereka berada. Mereka bergelantungan di bawah pohon-pohon besar, berenang, dan menggunakan potongan kayu hanyut sebagai pelampung.
Potongan kayu itu adalah bukti sejarah; berasal dari hutan yang dibabat oleh para transmigran generasi pertama, termasuk keluarganya, yang membuka lahan dari nol tanpa bantuan pemerintah. Alam bukan hanya tempat bermain, tetapi juga guru pertama tentang kehidupan dan kerja keras.
RM3 RD 1: Miniatur Indonesia yang Guyub
Tempat tinggalnya, RM3 RD 1, adalah sebuah pemukiman transmigran yang masih perawan. Di lokasi inilah masyarakat dari Bali, Jawa, dan suku asli hidup berdampingan dengan damai.
“Kami adalah perwakilan dari beragam budaya... tetapi di RM3 RD 1, kami menjadi satu,” kenangnya.
Dua anak manusia—Suardika dan Sriyani—dengan leluasa menjadikan alam yang luas sebagai gelanggang petualangan mereka, melintasi pematang sawah dan ladang hijau.
Kisahnya tentang memimpin Sriyani keluar dari rawa saat senja tiba adalah gambaran polos tentang tanggung jawab dan kasih sayang seorang kakak.
“Ayo, Sri. Ibu pasti sudah lama menunggu,” katanya, menggamit tangan sang keponakan.
Rutinitas membawa bekal untuk ayah yang bekerja di sawah, diselingi dengan berlarian di kebun rambutan dan jambu, mewarnai masa kecilnya dengan palet kebahagiaan yang sederhana namun mendalam.
Kerupuk Lonteng: Metafora Keindahan dalam Keragaman
Kini, rawa tempatnya bermain telah berubah menjadi bendungan yang mengairi sawah-sawah modern. Namun, kenangan itu tetap hidup. Dan dari kenangan itulah lahir sebuah refleksi yang dalam.
“Hari ini, setelah saya renung-renungkan, fase kehidupan kecil saya di RM3 RD 1... tak ubahnya kerupuk lonteng,” tulis Prof. Suardika.
Apa maknanya?
• Warna-Warni: Kerupuk lonteng yang berwarna-warni melambangkan keragaman suku dan budaya yang hidup guyub di pemukimannya.
• Bahan yang Sama: Meski warnanya berbeda, bahan mentahnya sama: ubi yang tumbuh dari tanah Indonesia. Ini simbol dari Bhinneka Tunggal Ika; berbeda-beda tetapi tetap satu jua, tumbuh dari akar dan tanah air yang sama.
(Bagian II)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....