Dari Ladang Itik ke Panggung Akademik (I)

  • 25 Sep 2025 19:30 WIB
  •  Kendari

KBRN,Kendari: Setiap orang hebat berdiri di atas pundak seorang pahlawan. Bagi Prof. Dr. I Ketut Suardika, pahlawan itu adalah ibunya, Ni Wayan Tjuklek.

Bagian pertama dari kisah hidupnya mengajarkan kita bahwa ketangguhan dan karakter mulia tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari didikan dan keteladanan di tengah kesulitan.

Ibu: Sekolah Pertama Kehidupan

Ni Wayan Tjuklek adalah sosok yang mewujudkan kekuatan diam. Sebagai istri petani di tanah rantau Lampung, hari-harinya dihabiskan dengan membanting tulang di ladang.

Namun, kelelahan fisik tidak pernah menghalanginya untuk memberikan kehangatan dan pelukan bagi anak-anaknya. Dari ibunya, Prof. Suardika belajar bahwa cinta dan kerja keras adalah dua sisi mata uang yang sama.

“Ibu jarang memaksa, ia memberi teladan,” ungkap Prof. Dr. I Ketut Suardika, menggambarkan kalimat itu sebagai metode pengasuhan sang ibu yang efektif.

Nilai kejujuran diajarkan dengan cara yang sederhana namun mendalam. Saat anak bungsunya, Suardika kecil, mengembalikan uang kembalian belanja hingga sen terakhir, sang ibu membalasnya dengan senyum dan pelukan—sebuah apresiasi yang lebih berharga daripada materi.

Keteladanan juga terlihat dalam hal spiritual; ibu selalu menjadi orang pertama yang bersembahyang sebelum mengingatkan anak-anaknya.

Awal yang Sarat Ujian: Busung Lapar dan Kereta Api Uap

Kisah kelahiran I Ketut Suardika pada 23 Juli 1959 di Seputih Rahman, Lampung, tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang kesedihan. Keluarganya, yang merupakan transmigran Bali, harus merelakan dua anak kembar yang meninggal diduga karena kurang gizi. Dalam duka dan kekurangan itulah Suardika kecil dibesarkan.

Ujian hidup terberat mungkin terjadi dalam sebuah perjalanan naik kereta api uap menuju Bali. Di dalam gerbong yang dipenuhi kepulan asap, seorang bocah berusia dua tahun—Suardika—tergeletak lemah di pangkuan ibunya.

Matanya mendelik, giginya gemeretak, terkena busung lapar, penyakit yang sama yang merenggut nyawa kedua kakaknya. Sang ibu, dengan perasaan pasrah, hanya bisa memeluk erat dan berdoa tanpa henti.

“Kamu hampir mati, Nak, saat itu,” kenangnya, sambil mengatakan bahwa episode ini adalah simbol betapa nyarisnya garis antara hidup dan mati dalam perjuangan keluarga ini.

Kreativitas di Tengah Kekurangan: Sekolah Hidup dari Sebuah Ladang

Hidup sebagai petani padi gogo di Lampung mengharuskan keluarga ini untuk kreatif. Ibu Suardika adalah ahli dalam meracik “nasi campur”—nasi yang dicampur dengan apa saja yang tersedia: ubi, daun ubi, pisang, bahkan ampas kelapa.

Daging adalah kemewahan yang baru bisa dinikmati Suardika di usia tujuh tahun, setelah ayahnya beternak itik dan babi. Dari sini, kita belajar bahwa kemandirian dan kreativitas adalah senjata ampuh untuk bertahan hidup.

Menyemai Benih Altruisme dan Mimpi Besar

Nasihat ibu yang paling membekas adalah kalimat “Kita sebagai manusia harus jujur. Di manapun kita berada, kita harus ulet, tekun, dan suka membantu serta menolong orang.” Nilai altruisme (suka menolong) inilah yang menjadi fondasi semangat pengabdian Prof. Suardika kelak.

Meski berasal dari keluarga miskin, ibu selalu menanamkan mimpi besar. “Kalau sekolah, sekolah yang baik. Kalau kerja, kerja yang benar agar bermanfaat untuk banyak orang,” pesannya saat mengantar Suardika di hari pertama sekolah.

Pesan sederhana inilah yang menjadi kompas, mendorong seorang anak pengembalaitik untuk berani bercita-cita mengejar pendidikan setinggi-tingginya.

(Bagian I)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....