Abon Tuna Ibu Ani Mendunia

  • 11 Des 2025 09:43 WIB
  •  Kendari

KBRN, Kendari: Dari sebuah dapur produksi sederhana di Kota Kendari, aroma rempah bercampur wangi ikan tuna yang disuwir menjadi saksi perjuangan ibu Ani Novita dalam membangun usaha abon tuna yang kini dikenal luas masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra).

Usaha ini telah ia tekuni sejak 2017–2018, bermula dari kondisi sulit ketika perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan.

Dalam masa penuh kebimbangan itu, sebuah permintaan dari sepupunya yang hendak berangkat ke Filipina menjadi titik balik penting.

“Awalnya, sepupu saya minta dibuatkan abon ikan. Dari situlah saya memikirkan kemungkinan memulai usaha sendiri, abon ikan,” cetus ibu Ani.

Ia sempat merasa khawatir mengenai penghasilan setelah keluar dari pekerjaannya, namun peluang kecil ini membuka jalan baru memulai kehidupan yang lebih baik.

“Kemudian saya meminta bantuan ibu saya untuk membuatkan abon yang akan jual, tetapi ibu menolak karena merasa saya tidak memiliki kemampuan berdagang,” ujarnya.

Meski begitu, ibu Ani tetap mantap melangkah dengan modal awal hanya Rp200.000. Keputusan itu ternyata menjadi awal perjalanan panjang usahanya.

“Pilihan pada abon ikan tuna muncul begitu saja, berangkat dari permintaan sepupunya saya tadi. Namun dari kebetulan ini, saya melihat potensi pasar yang menjanjikan,” kata ibu yang hanya memiliki putri semata mayang dari mendiang suaminya.

Ia mulai memproduksi abon menggunakan ikan tuna dan memadukannya dengan berbagai rempah seperti bawang merah, bawang putih, serai, lengkuas, jintan, ketumbar dan bumbu lainnya.

Proses pengolahan abon dilakukan dengan teliti. Ikan tuna dicuci, lalu dipisahkan antara daging, tulang, kepala, dan kulit. Dari 50 kilogram ikan tuna, daging yang bisa diolah menjadi abon ternyata hanya sebagian kecil.

Setelah itu, daging direbus, didinginkan, lalu dicampur dengan bumbu yang telah dihaluskan. Campuran ini kemudian dimasak selama dua hingga tiga jam hingga kering dan siap dikemas. Saat ini, beberapa tahap produksi sudah dibantu dengan mesin untuk meningkatkan efisiensi.

“Saya menjalankan usaha ini bersama dua orang karyawan. Produksi harian menyesuaikan permintaan pasar, terutama dari toko oleh-oleh yang menjadi tempat paling banyak menyerap produk usaha abon,” jelasnya.

Harga abon tuna ukuran 100 gram di pasaran berada pada kisaran Rp32.000 hingga Rp35.000, tergantung kebijakan setiap toko. Keuntungan dari penjualan inilah yang membuat usahanya bisa terus bertahan dan berkembang hingga sekarang.

Produk abon tuna buatan ibu Ani kini telah dipasarkan di seluruh gerai Indomaret di Sultra. Selain itu, pesanan dari luar daerah juga terus berdatangan, termasuk dari Makassar dan Jakarta. Bahkan, produk ini kerap dibawa hingga ke luar negeri, biasanya oleh jamaah umrah atau haji yang menjadikannya sebagai oleh-oleh.

Di tengah kesibukannya sebagai pelaku usaha, ibu Ani juga memegang tanggung jawab besar sebagai seorang ibu tunggal. Setelah suaminya meninggal dunia, ia menghidupi dan mendidik anak semata wayangnya yang kini duduk di bangku SMA.

“Mudah-mudahan dengan usaha abon ikan tuna ini dapat menjadi penopang masa depan anak dan memberikan kesempatan pendidikan yang lebih baik,” harapnya.

Tekad ibu Ani untuk mempertahankan usahanya begitu kuat. Selama masih ada permintaan dan pasar yang menerima, ia berkomitmen untuk terus memproduksi abon ikan tuna.

Ketekunan, keberanian mengambil peluang, dan semangat untuk bertahan membuat ibu Ani menjadi salah satu potret pelaku UMKM yang berhasil bangkit dari tekanan ekonomi dan membangun usaha hingga menembus pasar luar negeri.

(Munawaroh Fitrianti. A, Universitas Halu Oleo)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....