Usaha Kue Baruasa Khas Bugis Masih Bertahan
- 03 Des 2025 19:57 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari: Di sebuah sudut Kota Kendari di Jalan Wulele No. 3, Bonggoeya, tepat di samping Asrama Haji Kendari, aroma harum kelapa sangrai dan gula merah menyeruak setiap pagi, Rabu (03/12/2025).
Dari dapur kecil itulah, selama lebih dari satu dekade, tangan-tangan terampil La Aba Sungku seorang pria Bugis berusia 54 tahun tetap lincah meracik adonan kue tradisional baruasa.
Kue bertekstur padat dengan cita rasa manis gurih ini bukan sekadar penganan, melainkan warisan budaya yang terus dihidupkan oleh mereka yang percaya bahwa kuliner tradisional tidak boleh hilang oleh zaman.
Perjalanan bisnis La Aba Sungku dimulai pada 2013, namun akarnya jauh lebih tua dari itu. Baruasa adalah bagian dari keseharian keluarga besarnya di kampung asal, Lombe.
“Dari kecil kami sudah terbiasa membuatnya, jadi ini memang sumber dari kampung,” ujar La Aba sambil tersenyum mengenang masa kecilnya. Tradisi membuat baruasa seolah menjadi identitas keluarga, turun-temurun dari generasi sebelumnya.
Saat merantau dan menetap di Kendari, kemampuan itu tidak ia tinggalkan. Justru, keterampilan membuat baruasa menjadi pintu rezeki dan cara menjaga budaya kuliner Bugis tetap bertahan di wilayah urban.
Meski sudah berjalan 13 tahun, La Aba tak pernah tergoda untuk mengganti proses tradisional dengan teknologi modern. Mengolah kelapa, mencampur gula, merendam beras, hingga membentuk adonan, semuanya masih dilakukan secara manual. “Karena karyawannya banyak juga, jadi tetap dikerjakan manual,” katanya.
Kelezatan baruasa buatan La Aba berasal dari kesabaran. Sebab, baruasa bukan kue yang bisa dibuat tergesa-gesa. Campuran gula, kelapa, dan beras harus diolah dengan teknik tertentu agar menghasilkan tekstur padat namun tetap lembut saat digigit. Setiap kemasan dijual dengan harga sekitar Rp45.000 perkotaknya.
| Baca juga: Dari Dapur Rumah menuju Sukses |
Meskipun tampak sederhana, pemasaran baruasa La Aba telah menjangkau berbagai daerah di luar Kota Kendari. Ia sering menerima pesanan untuk dikirim ke kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Bahkan, pengiriman terjauhnya pernah dilakukan hingga ke Manado, Sulawesi Utara.
“Itu kemasan yang sudah mau berangkat lagi,” ujar La Aba sambil menunjukkan beberapa paket yang siap dikirim. Dengan kemasan yang rapi, bertandakan label khas produksi rumahannya, baruasa ini telah menjadi oleh-oleh favorit para perantau Bugis maupun pecinta kuliner tradisional lainnya.
Di balik ketekunan La Aba, ada kisah keluarga yang turut berperan. Ia memiliki tiga anak yang kini tengah meniti jalan masing-masing. Yang sulung telah bekerja, yang kedua sedang menempuh pendidikan di Semarang, dan si bungsu bersiap menghadapi momen wisuda.
Harapan La Aba sederhana namun penuh makna. Ia ingin hasil jerih payahnya tidak berhenti pada dirinya. “Harapannya, anak-anak bisa kembangkan ini. Jangan berhenti di saya saja,” tuturnya.
Meski memahami bahwa generasi muda memiliki pilihan hidup sendiri, ia tetap percaya bahwa usaha ini bisa diwariskan, bukan hanya secara ekonomi tetapi juga sebagai penjaga generasi atas cita rasa asli Bugis.
Zaman berubah. Tren kuliner semakin variatif, dengan makanan cepat saji, dessert kekinian, dan camilan viral yang bermunculan hampir setiap bulan. Namun di tengah derasnya arus modernisasi itu, baruasa tetap menemukan tempat di hati masyarakat.
(Andi Alfiansyah Nasrialdi, Universitas Halu Oleo)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....