Harga Bitcoin Meroket 23% dalam Sepekan, Tembus Rp 1,3 Miliar! Ini Deretan Pemicunya
- 23 Agt 2026 07:44 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin, kembali menunjukkan tajinya. Dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin tercatat melonjak hingga 23%, menembus level US$ 77.000 atau sekitar Rp 1,3 miliar. Angka ini melesat tajam dibandingkan posisi awal minggu lalu yang masih berkisar di US$ 62.800 (Rp 1,1 miliar).
Lonjakan harga Bitcoin ini turut mengembalikan sentimen positif investor dan mengerek naik saham-saham perusahaan yang terkait dengan industri kripto. Saham Coinbase dan Circle dilaporkan menguat hingga 9%, sementara saham Strategy ikut naik sekitar 7%.
Tiga Faktor Pendorong Utama
Reli harga Bitcoin yang dimulai sejak pertengahan pekan ini didorong oleh kombinasi faktor makroekonomi dan regulasi di Amerika Serikat:
- Intervensi Obligasi oleh Pemerintah AS Sentimen positif bermula ketika imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS turun tajam. Hal ini terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengambil langkah mengejutkan dengan memperbesar pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah jangka panjang guna meredakan kekhawatiran terhadap tingkat utang AS. Turunnya imbal hasil obligasi membuat biaya pinjaman mereda dan mendorong aliran dana investor beralih ke aset yang lebih berisiko (risk-on), termasuk kripto.
- Terjadinya Short Squeeze Kenaikan harga semakin tak terbendung akibat fenomena short squeeze. Data CoinGlass mencatat ada sekitar US$ 2,7 miliar posisi short (tebakan bahwa harga akan turun) yang mengalami likuidasi paksa di pasar kripto.
- Sentimen Pengesahan Clarity Act Kepercayaan diri investor semakin menguat setelah adanya dorongan dari Gedung Putih dan para pemimpin industri kripto untuk segera menyelesaikan rancangan undang-undang Clarity Act. RUU ini dipandang sebagai katalis krusial karena berpotensi memberikan kepastian regulasi yang jelas bagi ekosistem kripto ke depannya.
Peringatan untuk Investor: Masih Ada Potensi Turun
Meski sedang berada dalam tren bullish, posisi harga saat ini masih berada cukup jauh dari level tertinggi Bitcoin di tahun 2026 yakni US$ 94.820 (Januari), serta rekor tertinggi sepanjang masanya (ATH) di angka US$ 126.198 pada 6 Oktober 2025 lalu.
Pendiri sekaligus Managing Partner Token Bay Capital, Lucy Gazmararian, mengingatkan para investor untuk tidak lengah. Ia menilai bahwa meskipun pasar mulai keluar dari fase terburuknya akibat likuidasi posisi short dengan leveragetinggi, masih ada satu potensi koreksi sebelum siklus kenaikan berlanjut.
"Kami memperkirakan masih akan ada satu penurunan terakhir. Harga bisa turun 20% lagi agar sesuai dengan pola siklus sebelumnya," jelas Gazmararian dikutip dari CNBC, Sabtu 22 Agustus 2026.
Gazmararian menegaskan bahwa Bitcoin masih merupakan aset yang sangat volatil dalam pergerakan jangka pendek. Oleh karena itu, Gazmararian menyarankan agar para pelaku pasar tetap berpegang teguh pada strategi investasi jangka panjang, mengingat fungsi utama Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap penurunan nilai mata uang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....