Neraca Dagang Semester I Tetap Surplus, Ekonomi Menguat

  • 12 Agt 2026 08:48 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari — Neraca perdagangan barang Indonesia masih mencatat kinerja positif sepanjang semester I 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia periode Januari–Juni 2026 mencatat surplus sebesar US$3,58 miliar.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia secara kumulatif masih lebih tinggi dibandingkan nilai impor, meskipun pada Juni 2026 neraca perdagangan kembali mengalami defisit.

Pada Juni 2026, Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar US$450 juta. Nilai ekspor tercatat sekitar US$25,46 miliar, sementara impor mencapai US$25,91 miliar. Defisit tersebut lebih rendah dibandingkan defisit pada Mei 2026 yang mencapai US$1,61 miliar.

BPS mencatat neraca perdagangan nonmigas selama Januari–Juni 2026 membukukan surplus sekitar US$19,35 miliar. Sebaliknya, perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar US$15,77 miliar.

Pada Juni 2026 sendiri, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus US$3,04 miliar. Peningkatan surplus nonmigas tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat defisit perdagangan secara keseluruhan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Komoditas yang turut menopang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara tekanan terbesar masih berasal dari sektor migas, terutama perdagangan hasil minyak dan minyak mentah.

Dari sisi ekspor, nilai kumulatif Januari–Juni 2026 mencapai sekitar US$140,81 miliar, meningkat 4,13 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Peningkatan tersebut terutama didukung sektor industri pengolahan, yang mencatat pertumbuhan sebesar 6,18 persen. Hal ini menjadi sinyal bahwa aktivitas industri pengolahan tetap menjadi salah satu penggerak penting kinerja ekspor nasional.

Surplus US$3,58 miliar pada semester I 2026 memberikan gambaran bahwa sektor eksternal Indonesia masih memiliki bantalan positif. Namun, angka tersebut juga menunjukkan adanya tekanan yang perlu diperhatikan karena surplus kumulatif jauh lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Karena itu, pemerintah perlu terus mendorong ekspor bernilai tambah tinggi, memperluas pasar ekspor, memperkuat industri dalam negeri dan mengendalikan ketergantungan terhadap impor energi.

Bank Indonesia sendiri menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga ketahanan eksternal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Dengan demikian, surplus perdagangan semester I 2026 menjadi kabar positif bagi perekonomian Indonesia. Namun, surplus tersebut perlu dijaga melalui penguatan ekspor nonmigas, peningkatan daya saing industri, serta pengurangan tekanan defisit migas agar ketahanan ekonomi nasional semakin kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....