Menyikapi Dana Darurat Saat Biaya Hidup Makin Mahal
- 16 Nov 2025 16:04 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari: Kenaikan biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir membuat banyak keluarga harus menyesuaikan kembali kondisi keuangannya. Harga bahan pokok, transportasi, hingga layanan kesehatan meningkat, sementara pendapatan tak selalu ikut naik. Dalam situasi seperti ini, dana darurat menjadi elemen penting untuk menjaga stabilitas finansial, namun banyak orang kesulitan membangunnya.
Menurut Rina Wulandari, CFP, perencana keuangan sekaligus pendiri Finansia Insight, “Dana darurat adalah pondasi pertama yang harus diprioritaskan saat biaya hidup naik. Tanpa dana cadangan, setiap pengeluaran tak terduga bisa mengganggu kebutuhan bulanan dan memicu hutang baru.” Ia menegaskan bahwa idealnya dana darurat adalah 3–6 kali total pengeluaran bulanan.
Banyak individu dan keluarga mengaku kesulitan memulai dana darurat karena pengeluaran rutin sudah terasa berat. Situasi ini diperparah oleh gaya hidup konsumtif dan kurangnya pencatatan keuangan. Meski demikian, pakar keuangan menekankan bahwa dana darurat tetap dapat dibangun sedikit demi sedikit, bahkan mulai dari nominal kecil sekalipun.
“Saya dulu merasa tidak mungkin menabung karena gaji pas-pasan. Tapi setelah mencoba menyisihkan Rp10.000–Rp20.000 per hari, perlahan dana darurat saya terbentuk,” ujar Andika Pratama, seorang karyawan ritel di Tangerang. Ia menambahkan bahwa dana darurat yang ia miliki pernah membantunya menghadapi biaya kesehatan mendadak tanpa harus meminjam uang.
Membangun dana darurat memang tidak mudah di tengah biaya hidup yang terus meningkat, tetapi bukan hal yang mustahil. Mulai dari nominal kecil, atur ulang prioritas pengeluaran, dan gunakan instrumen penyimpanan yang aman dan likuid seperti tabungan atau e-wallet khusus dana darurat. Dengan langkah kecil yang konsisten, stabilitas finansial tetap bisa dijaga meski kondisi ekonomi tidak menentu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....